MEMBONGKAR KESESATAN SYI’AH

Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.

Apa Itu Syi’ah?
Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)
Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)
Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)
Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.
Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829). Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi . (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)
Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:

“Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).
Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.
Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.

Siapakah Pencetusnya?
Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)

Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

a. Tentang Al Qur’an
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad  (ada) 17.000 ayat.”
Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).
Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

b. Tentang shahabat Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)
Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)
Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)
Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah , mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)
Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)
Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah  lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)
Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi  namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad  ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)

c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)
Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib  dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah . Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)
Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.

d. Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)
Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

e. Tentang Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

f. Tentang Al-Bada’
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah . Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah , dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)

Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah
Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.
1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)
2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)
3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.
4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)
5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)
6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)
Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.

Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc

Syariah, Manhaji, 12 – Februari – 2004, 01:05:04

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=142

5 Tanggapan

  1. Alhamdulillah atas pencerahannya ustadz. Mudah2an Allah semakin meneguhkan kita diatas jalan Al Quran dan As Sunnah.

  2. syi’ah memperbolehkan nikah mut’ah, apa itu bukan termasuk perbudakan untuk kaum hawa yang hanya untuk pemuas syahwat lelaki hidung belang yang berkedok islam.
    bukankah Alloh SWT mengabadikan wanita didalam Al Qur’an dengan memberi salah satu suratnya dengan nama An Nissa? Udah jelas syi’ah bukan islam syi’ah hanya berkedok islam. oramg syi’ah lebih memulyakan Sayidina Husein dan Sayidina Ali RA. dari pada memulyakan Rosululloh SAW.
    Karbala diperingati dengan menganiyaya diri sendiri bukankah itu DHOLIM? Ana belum pernah mendengar syi’ah memperingati lahir dan meninggalnya Rosululloh Muhammad SAW.
    Kalau memang sepeninggal Rosululloh kekhilapahan pertama pada Ali mengapa ali tidak memprotes dan membaiat Abu Bakar, kalo Abu Bakar salah Ali wajib menegur Abu Bakar kalau Abu Bakar Egois tidak menerima HALAL DARAHNYA Abu Bakar.
    Pemahaman itulah cikal bakal adanya syi’ah. Pemahaman itulah yang ingin menghancurkan islam dengan mengatasnamakan Ahlul bait, bukankah kita kalau taat kepada Alloh dan Rosul tidak boleh termasuk ahlul bait? Bukankah Abu Bakar mertua Rosul? Aisyah istri Rosul? Umar Sahabat Rosul? Utsman menantu Rosul apakah mereka bukan Ahlul bait yang secara nasab dan aqidah ada ikatan dengan Rosul Ali juga sama keponakan sahabat menantu rosul cuma ayahnya aja belum muslim.

  3. Topik di atas bukannya pencerahan, tapi lebih pada pembodohan pada ummat. Karena apa yang tertulis tentang syiah di atas hampir 100 % salah.

    —haulasyiah—
    Hampir seratus persen salah. Yang mana mas?

  4. 1. Syi’ah memperbolehkan nikah mut’ah, apa itu bukan termasuk perbudakan untuk kaum hawa yang hanya untuk pemuas syahwat lelaki hidung belang yang berkedok islam. ?
    Jawab : mut’ah disyariatkan dalam Surah An-Nisa : 24, jadi apanya yang melanggar syiariah ?

    Tentang mut’ah telah sering kami bahas, bisa dilihat:
    Fatwa Hukum Nikah Mut’ah
    Zina dan Mutah

    2. Udah jelas syi’ah bukan islam syi’ah hanya berkedok islam. oramg syi’ah lebih memulyakan Sayidina Husein dan Sayidina Ali RA. dari pada memulyakan Rosululloh SAW.
    Karbala diperingati dengan menganiyaya diri sendiri bukankah itu DHOLIM? Ana belum pernah mendengar syi’ah memperingati lahir dan meninggalnya Rosululloh Muhammad SAW.
    Jawab : Anda terlalu mengada-ada jika mengatakan Syiah tidak memuliakan Rasul. Ketahui Syiah juga memperingati Maulid Nabi. Nanti saya undang pada acara kami jika antum tidak percaya.

    Mas Abu Ahmad, kalau anda memang penolong Ali dan penolong Rasul. Mengapa anda tidak mengikuti ajaran keduanya dari segala sisinya. Karena Allah mensyaratkan didalam Al-Qur’an bagi seseorang untuk cinta kepada Rasul adalah dengan mengikutinya (QS. Ali Imran:31) dan kecintaan kepada Rasul bukan di ukur dengan merayakan hari Maulud nya.
    Sekarang saya tanya, pernakah Sayyidah Ali memerintahkan atau mencontohkan seperti yang kalian lakukan pada hari karbala? jawablah jika memang kalian syi’atu Ali

    3. Kalau memang sepeninggal Rosululloh kekhilapahan pertama pada Ali mengapa ali tidak memprotes dan membaiat Abu Bakar, kalo Abu Bakar salah Ali wajib menegur Abu Bakar kalau Abu Bakar Egois tidak menerima HALAL DARAHNYA Abu Bakar.
    Jawab : Imam Ali taat pada Rasul, makanya beliau tidak menuntut haknya secara frontal. Rupanya antum tidak membaca sejarah ya, sehingga tidak tau percis bagaimana sikap Imam Ali atas hak kekhalifahan yang diwasiatkan oleh Rasul kepada beliau.

    Bisa disebutkan dalil dengan sanadnya wasiat Rasul kepada Sayyiduna Ali?

    4. Pemahaman itulah cikal bakal adanya syi’ah. Pemahaman itulah yang ingin menghancurkan islam dengan mengatasnamakan Ahlul bait, bukankah kita kalau taat kepada Alloh dan Rosul tidak boleh termasuk ahlul bait?
    Jawab : Syiah telah ada sejak zaman Rasul bahkah Allah Swt sendiri dalam Al-Qur’an yang mengatakan pengikut Ali sebagai Syiah, yaitu dalam salah satu ayat Al-Qur’an tentang “al-wilayah”

    Bisa dijelaskan di surat dan ayat yang mana?

    5. Bukankah Abu Bakar mertua Rosul? Aisyah istri Rosul? Umar Sahabat Rosul? Utsman menantu Rosul apakah mereka bukan Ahlul bait yang secara nasab dan aqidah ada ikatan dengan Rosul Ali juga sama keponakan
    Jawab :
    Ya, mereka-mereka itu adalah orang dekat Rasul, tapi mereka bukan Ahlul Bait Rasul seperti disebut dalam hadist Tsaqalain. Mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap wasiat rasul sepeninggal Rasul wafat. Mereka pula yang menyebabkan jasad rasul terlantar tidak dimakamkan hampir 3 hari pasca wafatnya Rasul.

    Pertama: Abu Bakar, Umar, Utsman memang bukan Ahlul bait Rasul. namun, didalam banyak haditsnya Nabi Shalallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan keutamaan mereka.
    Abu Bakar: berhijrah menemani Rasululllah, Umar dengannyalah islam menjadi kuat, Utsman banyak menyumbangkan hartanya untuk tentara islam ketika itu. Tidak tergolongnya mereka sebagai Ahlul Bait tidak akan mempengaruhi keimanan mereka. Karena yang dipandang disisi Allah adalah ketaqwaan.
    Adapun Sayyidah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menurut umat islam beliau adalah Ahlu bait dengan Nash langsung firman Allah dalam surat Al-Ahdzab sebagaimana yang telah sering dijelaskan.
    Anda katakan mereka membangkang terhadap wasiat Rasul, wasiat mana yang anda maksudkan?
    Anda katakan mereka penyebab jenazah Rasul terlantar sampai tiga hari, sebaiknya anda baca lagi sejarah yang shahih dengan serius.

    6. sahabat menantu rosul cuma ayahnya aja belum muslim.
    Jawab : Ali ditunjuk oleh Allah sebagai “Al-Wasyie” (pelaksana wasiat Nabi), diibaratkan bahtera penyelamat Nuh, Ali adalah saudara Rasul, penjaga kemurnian pentakwilan al-qur’an. Aii juga pintu ilmunya Rasul, dan masih banyak lagi keutamaan beliau.
    Alasan apakah gerangan antum membenci Ali dan syiahnya ?
    Tidak ada alasan lain kalian membenci kami, kecuali kemunafikan, kebencian dan ketidakpatuhan kalian pada titah Allah dan Rasul-Nya.
    Wassalam.

    Saudara Abu Ahmad, Sayyiduna Ali adalah orang mulia dan dimuliakan disisi Ahlus Sunnah, bukti kemuliaannya sangat banyak sekali didalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Namun sekali lagi, Sayyiduna Ali tidak ada kaitannya dengan Syi’ah. Yang kami bicarakan adalah sikap ekstrim syi’ah terhadap beliau sehingga memunculkan paham-paham yang jauh menyimpang dari Al-Islam sebagaimana sebagiannnya telah kami jelaskan dalam blog ini. Sekali lagi, yang kami bicarakan bukan kredibilitas Ali bin Abi Thalib, beliau adalah Muhajirin, Anshar, menantu Rasul, sekaligus khalifah rasul ke empat. radhiallahu ‘anhu.

  5. terima kasih atas penjelasannya. Maaf jika kami terlalu bersuudzon pada syiah.

Tinggalkan Balasan