إِنّ الّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصّالِحَاتِ أُوْلَـَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيّةِ
“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shalih, mereka adalah Khairul Bariyyah (sebaik-baik manusia).”
Siapa yang dimaksud dengan “Khairul Bariyyah”?
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Ali bin Abi Tholib:
“Wahai Ali! Baru saja Jibril ‘alaihis salam menyampaikan kepadaku bahwa yang dimaksud di dalam surat Al Bayinah ayat ke tujuh itu adalah engkau dan para syi’ahmu yang akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.”. Hadits ini disebutkan oleh Al Imam Ath Thobari di dalam tafsirnya, pada ayat ketujuh dari surat Al Bayyinah ini.
Hadits diatas menunjukkan betapa besarnya keutamaan Ali radhiallahu ‘anhu, akan tetapi sayang seribu sayang hadits diatas adalah hadits yang lemah dari beberapa sisi
Yang Pertama: Hadits diatas diriwayatkan dari seorang yang dikenal dengan Abul Jarud (namanya Ziyad bin Al Mundzir asalnya dari negeri Kufah) meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, jadi Muhammad bin ‘Ali ini adalah cucunya Husain, anaknya ‘Ali bin Abi Thalib.
Ternyata Abul Jarud tersebut yang namanya Ziyad bin Al Mundzir dinyatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam kitabnya “Tahdzibut Tahdzib” dan “Taqribut Tahdzib” sebagai Kadzdzabun Rofidhy (seorang rowi yang pendusta dan beraqidahkan syi’ah rafidhah).
Kemudian Al Imam Ibnu Hibban menyatakan: (Abul Jarud Ziyad bin Al Mundzir) adalah seorang syi’ah rafidhah, dia dikenal sebagai pemalsu hadits dalam perkara-perkara yang menjatuhkan kredibilitas shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, dan dia juga sering menyebutkan keutamaan-keutamaan ahlul bait yang tidak ada dasarnya, sehingga tidak halal meriwayatkan hadits dari orang tersebut”.
Yang kedua: Para ulama ahli hadits menyebutkan bahwa Muhammad bin Husain adalah seorang tabi’in yang terpercaya, yang memiliki keutamaan dan termasuk fuqaha’ negeri Madinah di jamannya. Di dalam hadits diatas disebutkan bahwa Muhammad bin ‘Ali langsung meriwayatkan hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau yang dijuluki dengan Muhammad Al Baqir tidak pernah bertemu dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka hadits ini disebut dengan hadits mursal di dalam ilmu mushtholahil hadits, dan hadits mursal tidak bisa diterima sebagai landasan (hadits dha’if).
Yang ketiga: Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Muhammad bin ‘Ali meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholib (kakeknya), akan tetapi sayang ulama’ ahli hadits menyebutkan bahwa beliau tidak pernah bertemu dengan ‘Ali bin Abi Tholib.
Inilah hadits yang sering dipakai oleh kaum syi’ah rafidhah untuk mendukung madzhabnya. Dan telah kita ketahui bahwa hadits tersebut lemah dan tidak dapat dijadikan sebagai sandaran. Wallahu ‘alam
Transkip: dari ta’lim Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, dengan tema “Kedustaan Agama Syi’ah” dengan sedikit perubahan kalimat yang tidak merubah makna”.
DIarsipkan di bawah: Tafsir Syi'ah



Subhanallah. Banyak faedah yang didapat kalau tinggal di ma’had, mengikuti setiap taklim. Andaikan ana bisa tinggal di ma’had, taklim rutin tiap hari, tentu akan dapat faedah yang banyak. Ilmu itu lebih baik dari dunia dan seisinya.
Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (Muhammad al Baqir) itu kan memang keturunan Imam Ali.. Sudah selayaknya hadis ini turun temurun diturunkan kepada anak cucunya… Jadi walaupun tidak pernah bertemu dengan Imam Ali bin Abi Thalib, hadis ini tetap sahih…Imam Ali mewasiatkan kepada Imam Hasan kemudian kepada Imam Husain lalu kepada Imam Ali Zainal Abidin lalu kepada Imam Muhammad al Baqir lalu kepada Imam Jafar Ash Shadiq lalu Imam Musa Al Kadzim lalu Imam Ali Ar Ridha lalu Imam Muhammad Al Jawad lalu Imam Ali Hadi an Naqi lalu Imam hasan al Askari lalu terakhir Imam Muhammad al Mahdi (Imam Mahdi)…Itulah ahlulbait Nabi yang sesungguhnya…
—haulasyiah—
ada buktinya mas?
Bismillahirrohmaanirrohim…
Ini beberapa buktinya mas :
1. Diriwayatkan oleh Hafiz Sulaiman bin Ibrahim Al-Qanduzi Al-Hanafi, dari sahabat Ibnu Abbas ra berkata : “Seorang Yahudi bernama Maqthal datang menemui Rasulullah saww dan berkata : “Wahai Muhammad, aku akan bertanya kepadamu tentang beberapa masalah yang menyibukkan pikiranku sejak beberapa waktu. Beritahukan kepadaku siapa penerima washimu, karena tidak seorang nabipun yang tidak memiliki washi.” Rasul menjawab, “Washiku adalah Ali bin Abi Thalib dan sesudahnya dua cucuku Hasan dan Husein dan diteruskan oleh sembilan imam dari keturunan Husein.” Si Yahudi berkata : “Sebutkanlah nama-nama mereka.” Rasul menjawab, “Setelah Husein diteruskan oleh anaknya Ali, setelahnya Muhammad, setelahnya Ja’far, sesudahnya Musa, sesudahnya Ali, setelahnya Muhammad, setelahnya Ali, sesudahnya Hasan dan diakhiri dengan anaknya Al-Hujjah Muhammad Al-Mahdi. Jumlah mereka dua belas orang.”
2. Di dalam suatu hadis yang lain Ubabah bin Rab’i meriwayatkan pula Jabir berkata: Rasulullah saw bersabda maksudnya; Aku adalah pemimpin para Nabi dan Ali adalah pemimpin para pemegang wasiat., Adapun pemegang wasiatku selepasku adalah sebanyak dua belas orang, Ali adalah yang paling awal dikalangan mereka dan yang terakhir ialah Imam Al-Qaim Al-Mahdi. [Lihat kitab Yanabi’ al-Mawaddah tulisan al-Hamawi, Juzu’ 11, bab 77]
3. Salman al-Farisi telah berkata; Aku telah datang menemui Rasulullah saw sedangkan beliau pada saat itu sedang memeluk Imam Husayn as serta mengecup mulutnya lalu Rasulullah saw bersabda kepada al-Husayn as, Engkau adalah pemimpin (sayyid) putera dari sayyid (Imam Ali as) dan saudara dari sayyid (Imam Hasan as), dan engkau Imam putera kepada Imam dan saudara kepada imam, dan engkau pemegang amanah Allah (hujjah) putera kepada hujjah serta saudara kepada hujjah serta bapak kepada sembilan orang Imam, yang kesembilan dibangkitkan ialah al-Mahdi. [Lihat kitab yang sama dengan huraian oleh Ibn Khawarizmi]
4. Al-Juwaini Al-Khurasany mengeluarkan dari Sa’id bin Jubair dan Abdullah bin Abbas: Telah bersabda Rasulullah S A W : “Sesungguhnya para Khalifahku dan Washy (pemegang wasiat)ku serta hujjah-hujjah Allah terhadap makhluk sesudahku adalah 12 Orang, yang pertama adalah saudaraku, dan yang terakhir adalah anakku” Ditanya kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, siapa saudara Tuan itu ?’ ‘Beliau menjawab: Ali bin Abi Thalib.’ Ditanyakan lagi: ‘Dan siapa putra Tuan itu ?’ ‘Beliau menjawab: ‘Al-Mahdi,yang akan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagaimana ia (dunia) telah dipenuhi dengan kejahatan dan kedzaliman.
—haulasyiah—
wah wah… tolong dicantumin sanad dan sumbernya ya, biar bisa saya cek keshahihannya.
bisa tolong disebutkan sanadnya, mas! jangan-jangan palsu.
mereka semua dari Quraisy sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat Muslim.
waduh maaf mas…. haditsnya gak ada di bab fadhl ahlulbait. coba sampeyan cek lagi
Al Qunduzi Al Hanafi adalah seorang syi’ah kolot, kami tidak bisa membenarkan riwayatnya kecuali jika datang dengan sanad yang jelas.
terus, hubungannya apa?
seandainya anda dapat membantu saya, dimana saya dapat menemukannya.