Mengenal Al-Fuqaha’ As-Sab’ah (5), Al-Qasim bin Muhammad

Al-Qasim bin Muhammad

Cucu Abu Bakr Ash-Shiddiq yang Paling Mirip dengan Kakeknya

Sejak ayahnya meninggal, beliau hidup dalam keadaan yatim di bawah asuhan dan didikan bibinya, yaitu Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikatakan oleh para ulama sebagai orang yang paling berilmu ketika itu. Sehingga tidaklah mengherankan jika beliau kemudian menjadi seorang alim besar dari generasi tabi’in. Ditambah dengan kemuliaan akhlak dan adab yang melekat pada dirinya, sangatlah pantas kalau dikatakan beliau adalah salah seorang dari Al-Fuqaha’ As-Sab’ah.

Kunyah dan Nama Lengkap Beliau

Nama lengkap beliau adalah Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq At-Taimi Al-Qurasyi, Al-Madani Al-Faqih. Menilik dari silsilahnya, beliau merupakan cucu Al-Khalifah Ar-Rasyid Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, shahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus manusia terbaik di muka bumi setelah wafatnya Al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tokoh tabi’in keponakan ibunda kaum mukminin A’isyah radhiyallahu ‘anha ini berkunyah Abu Muhammad, dan ada yang mengatakan beliau berkunyah Abu ‘Abdirrahman.

Keilmuan, Ibadah, dan Akhlak Beliau

Al-Qasim meriwayatkan hadits dari ayahnya (yakni Muhammad bin Abi Bakr), ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Az-Zubair, Ibnu ‘Amr bin Al-‘Ash, ‘Abdullah bin Ja’far, Abu Hurairah, ‘Abdullah bin Khabbab, Mu’awiyah, Rafi’ bin Khadij, Aslam -bekas budak Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma-, Fathimah bintu Qais, dan yang lainnya.

Dan adapun para muhadditsun yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah anaknya sendiri (yakni ‘Abdurrahman), Asy-Sya’bi, Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Ibnu Abi Mulaikah, Nafi’ maula Ibni ‘Umar, Az-Zuhri, Ayyub As-Sakhtiyani, Ibnu ‘Aun, Rabi’ah, Abu Az-Zinad, dan masih banyak lagi.

Beliau adalah seorang tabi’in yang amanah. Wajar jika kemudian ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dikenal sebagai khalifah kelima yang adil, tertarik akan keamanahannya. Ia berkata: “Seandainya aku punya sedikit kekuasaan, aku akan jadikan Al-Qasim sebagai khalifah.”

Al-Qasim kecil sabar menjalani takdir Allah ‘azza wajalla sebagai anak yatim dalam tarbiyah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut ‘Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, beliau adalah cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq yang paling mirip dengan kakeknya.

Beliau pernah mengatakan: “‘Aisyah adalah seorang mufti wanita dari zaman Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan seterusnya sampai ia meninggal. Aku senantiasa bersimpuh menimba ilmu darinya dan juga duduk belajar kepada Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar”.

Ini adalah ungkapan yang mengisyaratkan antusiasnya beliau terhadap ilmu agama meskipun menanggung beban hidup yang sangat berat sebagai anak yatim.

Ayyub As-Sakhtiyani -salah seorang alim di zamannya- berkata: “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih utama darinya. Ia tidak mau mengambil uang yang (padahal) halal untuknya senilai seratus ribu dinar.”

Ini adalah ungkapan seorang alim yang menunjukkan sifat wara’ dan keutamaan Al-Qasim. Bahkan karena kehati-hatiannya dalam berfatwa, ia mengatakan: “Seseorang hidup dengan kebodohan setelah mengetahui hak Allah, lebih baik baginya daripada ia mengatakan sesuatu yang ia tidak mengetahuinya (berfatwa tanpa ilmu).” Sehingga Al-Imam Malik mengatakan bahwa beliau adalah seorang alim yang sedikit dalam memberikan fatwa.

Beliau juga dikenal sebagai seorang alim yang memiliki sifat tawadhu’. Ibnu Ishaq menceritakan: “Aku melihat Al-Qasim mengerjakan shalat, kemudian datanglah seorang badui kepada beliau dan mengatakan: ‘Siapa yang lebih berilmu? Engkau atau Salim?’ Maka Al-Qasim mengatakan: ‘Subhanallah.’ Terus beliau mengulang-ulang kalimat ini. Kemudian beliau mengatakan: ‘Itu adalah Salim, tanyakanlah kepadanya’.”

Ibnu Ishaq mengatakan: “Al-Qasim tidak suka kalau mengatakan: ‘aku lebih berilmu daripada salim’ karena hal itu termasuk memuji diri sendiri, dan beliau juga tidak suka kalau mengatakan: ‘Salim lebih berilmu’ karena berarti dia telah berdusta. Kemudian Ibnu Ishaq mengatakan: “Dan Al-Qasim adalah lebih berilmu daripada Salim.”

Dahulu Ibnu Sirin memerintahkan orang-orang yang menunaikan ibadah haji untuk melihat bimbingan Al-Qasim, maka orang-orang pun meneladani (mengambil bimbingan) dari beliau.

Sebelum meninggal, Al-Qasim berwasiat kepada salah seorang anaknya: “Ratakanlah kuburku dan taburilah dengan tanah, serta janganlah kamu menyebut-nyebut keadaanku demikian dan demikian.”

Pujian Para Ulama kepada Beliau

Abdurrahman bin Al-Qasim (anaknya sendiri) pernah mengatakan: “Beliau adalah manusia paling utama di zamannya.”

Yahya bin Sa’id berkata: “Kami tidak melihat seorang pun di Madinah yang lebih kami utamakan daripada Al-Qasim.”

Abu Az-Zinad berkata: “Aku tidak melihat seorang yang lebih tahu tentang As-Sunnah daripada Al-Qasim bin Muhammad, dan aku juga melihat tidak ada seorang pun yang lebih jenius daripada dia.”

Imam Daril Hijrah Malik bin Anas mengatakan: “Al-Qasim adalah salah seorang di antara Fuqaha’ umat ini.”

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan: “Orang yang paling mengetahui hadits (riwayat dari) ‘Aisyah ada tiga: Al-Qasim bin Muhammad, ‘Urwah bin Az-Zubair, dan ‘Amrah bintu ‘Abdirrahman.”

Ibnu Hibban mengatakan: “Beliau adalah termasuk tokoh tabi’in dan orang yang paling utama di zamannya dari sisi keilmuan, adab, dan fiqh.”

Wafat Beliau

Al-Qasim, seorang tokoh besar tabi’in yang buta di akhir kehidupannya ini wafat setelah meninggalnya ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz. Para ulama berbeda pendapat dalam menyebutkan tahun wafat dan umur beliau ketika itu. Ada yang mengatakan beliau wafat tahun 101 H, atau 102 H, ada juga yang mengatakan tahun 105 H, atau tahun 107 H. Beliau wafat dalam usia 70 tahun pada masa kekhalifahan Yazid bin ‘Abdil Malik bin Marwan sewaktu menunaikan ibadah ‘umrah bersama Hisyam bin ‘Abdil Malik di perbatasan antara kota Madinah dan Makkah.

Di antara untaian hikmah yang pernah beliau ucapkan adalah: “Allah menjadikan (bagi) kejujuran itu (dengan) kebaikan yang akan datang sebagai ganti dari-Nya.”

Semoga Allah subhanahu wata’ala merahmati beliau.

Bersambung, Insya Allah edisi berikutnya biografi ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud.

Rujukan:

1. Al-Bidayah Wan Nihayah

2. Siyar A’lamin Nubala’

3. Tadzkiratul Huffazh

4. Tahdzibut Tahdzib

5. Taqribut Tahdzib.

Dirangkum oleh Muhammad Rifqi dan Abu ‘Abdillah Kediri.

Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=459

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: