KAJIAN ILMIYAH TENTANG KEDUA ORANG TUA NABI (menjawab syubuhat syi’ah 2)

Mungkin bagi sebagian pembaca heran dengan tema yang kami sajikan dalam kesempatan kali ini, masak sih orang tua nabi mati musyrik?! Tentunya yang namanya mati musyrik pasti tempatnya di neraka. Terasa berat kami untuk menjawabnya, akan tetapi inilah kenyataan yang harus kami jelaskan, agar kaum muslimin paham dan tidak tertipu dengan syubuhat-syubuhat yang dilontarkan oleh para pengusung paham sesat. Dengan slogan “membela ahlu baitin nabi shalallahu ‘alaihi wasallam” segala carapun dihalalkan, dari menafsirkan ayat seenak perutnya, memahami hadits dengan hawa nafsu bahkan membuat hadits-hadits palsu atau dengan melontarkan syubuhat-syubuhat dan memolesnya dengan kata-kata indah agar para awam tertipu. Bi’sa ma kaanu yaf’aluun.

Akan tetapi, bagaimana sih sikap islam sebenarnya? Bukankah agama ini telah sempurna? Nah bagi para pencari kebenaran yang hakiki berikut ini kami hadirkan beberapa hadits yang berkaitan dengan pembahasan kita kali ini. Selamat membaca dengan mata dan hati yang terbuka

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam beberapa haditsnya yang shahih tentang keadaan kedua orang tua beliau sendiri, diantaranya adalah:

2. Hadits yang diriwayatkan Al Imam Muslim di dalam “Shahihnya” (203), Abu Daud “As Sunan” (4718), Ibnu Hibban “As Shahih” (578), Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (13856), Ahmad “Al Musnad” (7/13861), Abu ‘Awanah “Al Musnad” (289), Abu Ya’la Al Mushili “Al Musnad” (3516), dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:

أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.

“Bahwasanya seseorang bertanya: “wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka” ketika orang tersebut beranjak pergi, beliau memanggilnya dan berkata: “Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.”

2. Hadits yang diriwayatkan Al Bazzar di dalam “Al Musnad” (2/1089), At Thabarani “Al Mu’jamul Kabir” (1/326), Ibnu Qudamah Al Maqdisi “Al Ahadits Al Mukhtarah” (1005) dari Sa’ad bin Abi Waqqash:

أن أعرابيا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله أين أبي قال في النار قال فأين أبوك قال حيث ما مررت بقبر كافر فبشره بالنار

“Bahwasanya Seorang badui mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya: Wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka”, kemudian dia bertanya lagi: dimana ayahmu? Beliau menjawab: “Setiap kali kamu melewati kuburan orang kafir maka berilah kabar gembira dia dengan neraka.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam “As Sunan” (1/1573) dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dengan tambahan: “Wahai Rasulullah! Dahulu ayahku penyambung silaturahmi dan dia…dan dia…(kemudian dia menyebutkan beberapa kebaikannnya), dimana dia? (kemudian Rasulullah menjawab dengan jawaban diatas…..

Berkata Abu Bakr Al Haitsami di dalam kitabnya “Majmu’ Az Zawa’id” setelah menyebutkan hadits diatas: “para perowinya, perowi Shahih Bukhari.”

3. Hadits yang diriwayatkan Muslim di dalam “Shahihnya” “Kitabul Janaiz bab Isti’dzanun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam rabbahu ‘azza wajalla Fii Ziyaroti Qabri Ummihi” (976), Ibnu Hibban “As Shahih” (3169, Ibnu Majah “As Sunan” (1572) Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (6949,6984,13857), Abu Bakr bin Abi Syaibah “Al Mushannaf” (11807) dan Abu Ya’la “Al Musnad” (6193), dari Abu Hurairah radhiallahu anhu:

استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي

“Aku meminta ijin kepada Rabbku (Allah) untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengijinkanku, dan aku meminta ijin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengijinkanku.”.

Didalam riwayat lain disebutkan: “Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kuburan ibunya kemudian beliau menangis maka menangislah para shahabat seluruhnya, beliau berkata:… (kemudian beliau menyebutkan lafadz diatas) dan melanjutkan: “Hendaklah kalian berziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kematian.”

Berkata Syamsul Haq Al ‘Adzim Abadi di dalam kitabnya “‘Aunul Ma’bud” (9/Bab Fii Ziyarotil Qubur): “(perkataan nabi) “akan tetapi Dia tidak mengijinkanku” ini disebabkan dia (Aminah) mati dalam keadaan kafir, maka tidak boleh memintakan ampun untuk orang kafir (yang sudah mati).”

pernyataan para ulama’

1. Al Imam Al Baihaqi berkata di dalam kitab beliau “Dalailun Nubuwah” (1/192-193) setelah menyebutkan sejumlah hadits-hadits yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka: “Bagaimana keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah patung-patung sampai mereka mati, dan mereka tidak beragama dengan agamanya Nabi Isa alaihis salam, …………”.

Dan di dalam “As Sunanul Kubro” (7/190) beliau berkata: “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik” kemudian beliau menyebutkan dalil-dalilnya.

2. Al Imam Ath Thabari menyebutkan di dalam “Tafsirnya” ketika menjelaskan firman Allah subhanahu wata’ala: {ولا تسأل عن أصحاب الجحيم} “kamu tidak akan ditanya tentang para penghuni jahannam”(Al Baqarah:119). Dan kedua orang tua beliau termasuk diantaranya (Tafsir Ath Thabari 1/516).

3. Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata ketika menjelaskan hadits “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. Hadits ini mengandung faidah bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia termasuk dari penduduk neraka, tidak akan bermanfaat pembelaan orang yang membela, dan barang siapa yang mati pada masa fathrah (kosongnya masa kenabian) dari para penyembah berhala, maka dia termasuk dari penghuni neraka, ini bukan dikarenakan belum sampai kepada mereka dakwah akan tetapi telah sampai kepada mereka da’wah Ibrahim dan Nabi-Nabi setelahnya shalatullah wa salamullahu alaihim. (Syarhun Nawawi:1/79).

4. Berkata Al ‘Adzim Abadi di dalam “Aunul Ma’bud” ketika menjelaskan hadits”فلم يأذن لي ” “Allah tidak mengijinkanku untuk memintakan ampunan untuk ibuku”: Karena ibunya adalah kafir, dan memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati) adalah dilarang…dan di dalam hadits ini terdapat faidah bolehnya ziarah kekuburan orang musyrikin dan larangan untuk memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati).”

5. Al Imam Al Qori’ menukilkan Ijma’ para Ulama’ salaf (yang terdahulu dari kalangan shahabat,tabiin dan tabiut tabiin) dan khalaf (setelah shahabat,tabi’in dan tabi’ut tabi’in) bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam termasuk dari penghuni neraka, dia berkata: “Telah bersepakat para Ulama’ salaf dan khalaf, imam yang empat (Imam Malik, Ahmad, syafi’I, Abu Hanifah) dan seluruh mujtahidiin bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan masuk neraka……..

6. Al Imam Al Baidhawi ketika menafsirkan ayatولا تسأل berkata: “Al Imam Nafi’ dan Ya’qub membacanya dengan huruf ta’ berharokat fathah yang artinya: “Janganlah kamu bertanya tentang penghuni neraka”. Ini adalah larangan terhadap beliau shalallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya tentang keadaan kedua orang tua beliau”. (Tafsir Al Baidhawi 1/185)

Masih banyak lagi hujjah-hujjah yang lainnya yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mati kafir dan termasuk penghuni neraka kekal di dalamnya. Akan tetapi kita cukupkan sampai disini dulu.

Mungkin ada yang menyatakan: bahwa orang-orang yang mengatakan kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam neraka adalah orang-orang yang tidak memiliki adab kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam !!! Untuk syubuhat yang satu ini Insya Allah akan kita kupas pada pembahasan yang akan datang,. Wallahu a’lam

 

Penutup

Diantara akhlak seorang mukmin dan mukminah adalah menerima terhadap ketentuan Allah dan rasul-Nya dengan sepenuhnya. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan mukminah apabila Allah dan rasul—-Nya telah menetapkan suatu ketetapan untuk memilih yang lain dari urusan mereka. Barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS Al Ahdzab:36)

Dan diantara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah apa yang telah kami sebutkan di atas berupa hadits-hadits shahih dengan penjelasan para ulama’ bahwa kedua orang tua beliau mati musyrik. Inilah adab seorang mukmin. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam bish shawab

 

Di nukil dari kitab Adillah Mu’taqad Abi Hanifah Al A’zham fii Abawai Ar Rasul ‘Alaihis Shalatu Wasallam. Dengan penambahan yang tidak merubah makna.

19 Tanggapan

  1. semoga mendapatkan faedah juga di Dimanakah Orang Tua Rosululloh?

    —HAULASYIAH—
    Jazakallahu Khairan atas informasinya….

  2. Alhamdulillah, terimakasih sudah memberikan posting yang begitu jelas dan mencerahkan.

  3. Masih banyak lagi hujjah-hujjah yang lainnya yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mati kafir dan termasuk penghuni neraka kekal di dalamnya. Akan tetapi kita cukupkan sampai disini dulu.

    Saya pikir uraian di atas kurang bijaksana. Bagaimana mungkin kedua orang tua Rasulullah masuk neraka, sementara selama hidup mereka tidak pernah kedatangan Nabi? Pls renungkan lagi?

    Maksud Hadist Nabi diatas tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa orang tua beliau ada di neraka, tapi untuk menutup pertanyaan-pertanyaan iseng mengenai nasib orang-orang sebelumnya.

    Saya ingat ayat di Al Quran yang kurang lebih menyatakan “bahwa umat terdahulu adalah urusan Ku (Tuhan)”.

    Jadi uraian anda bahwa orang tua rasulullah ada di neraka bukan uraian seorang muslim yang bijaksana.

    Salam
    irwAn

    haulasyiah
    Bijaksana dan tidak bijaksana itu harus sesuai dengan timbangan syari’at.

    Saya pikir uraian di atas kurang bijaksana. Bagaimana mungkin kedua orang tua Rasulullah masuk neraka, sementara selama hidup mereka tidak pernah kedatangan Nabi? Pls renungkan lagi?

    Lah nabi Ibrahim bukan nabi? mengapa mereka dikafirkan oleh Allah? Karena mereka telah merubah agama Ibrahim yang lurus dengan agama berhala, dan keduanya termasuk darri mereka.

    Maksud Hadist Nabi diatas tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa orang tua beliau ada di neraka, tapi untuk menutup pertanyaan-pertanyaan iseng mengenai nasib orang-orang sebelumnya.

    Dari mana anda mendapatkan tafsir seperti ini? dari pikiran, hawa nafsu atau….?

    Saya ingat ayat di Al Quran yang kurang lebih menyatakan “bahwa umat terdahulu adalah urusan Ku (Tuhan)”.

    Benar, dan Allah-ah yang menentukan semua perkara, dan termasuk perkara yang ditentukan Allah “bahwa keduanya adalah penghuni neraka”, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh rasulullah sendiri di dalam hadits-hadits jelas dan gamblang diatas.

    Jadi uraian anda bahwa orang tua rasulullah ada di neraka bukan uraian seorang muslim yang bijaksana.

    Pernyataan anda ini telah menuduh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak bijaksana. Karena apa yang telah kami sampaikan ini merupakan uraian Rasulullah

  4. saya pikir apa yang dibuat para ulama betentangan dengan alquran. ada ayat yang bunyinya (kurang lebih): “kami tidak membeda-bedakan para nabi”

    dalam alquran kita baca bahwa ada nabi yang gagal (isa), ada nabi yang kinerjanya kurang bagus (musa gagal mencegah samiri menyembah sapi), ada nabi yang hawa nasfunya hampir tergoda (daud)… tapi allah memerintakan supaya kita tidak membeda-bedakan para nabi!

    lalu kenapa ulama diatas membeda-bedakan para sahabat nabi? sungguh kurang bijaksana.

    Salam
    irwAn

    HAULASYIAH
    Al-Imam Al-Bukhari berkata: Berilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan berbuat”. biar nggak salah……..
    Maaf, ayat yang anda sebutkan itu di dalam surat apa ya? Kalau di dalam surat Al-Baqarah ayat 284 bunyinya adalah: “Kami (yang berkata orang-orang yang beriman) tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari rasul-rasul-Nya…”, jadi anda salah penukilan, makanya jangan sok nyalakan ulama’ dengan al-qur’an, ulama itu adalah orang yang paling tahu tentang al-qur’an. Dan yang dimaksud ayat tersebut adalah: “Kami tidak membeda-bedakan para rasul di dalam hal keimanan, sebagai pembeda dengan orang yahudi yang beriman dengan sebagian rasul dan ingkar dengan sebagian yang lain” Jadi bukan larangan untuk membeda-bedakan dalam hal keutamaan.
    Dalil yang membolehkan membeda-bedakan keutamaan satu dengan yang lainnya –tentunya sesuai dengan tuntunan syari’at– adalah firman Allah:
    Di dalam surat Al-Baqarah ayat 253: “Itulah para rasul yang Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain…” Kemudian Allah menyebutkan kelebihan sebagian rasul atas sebagian yang lain. Apakah anda juga akan mengatakan bahwa Allah kurang bijaksana?
    kemudian di dalam surat Al-Isra’: “Dan sungguh Kami lebihkan sebagian para nabi atas sebagian yang lain. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud”. Dengan jelas Allah menyebutkan bahwa Dia melebihkan antara satu nabi dengan nabi yang lain, Kemudian Allah memberi contoh dengan nabi Daud yang diberi kelebihan dengan Zabur. Apakah anda juga akan mengatakan bahwa Alllah kurang bijaksana?

    …..tapi allah memerintakan supaya kita tidak membeda-bedakan para nabi!

    di dalam ayat yang mana ya? Kalau di Al-Qur’annya kaum muslimin, yang ana tahu sih nggak ada!

    lalu kenapa ulama diatas membeda-bedakan para sahabat nabi? sungguh kurang bijaksana.

    Sudah kami jelaskan diatas, tinggal dibaca dan dicermati dengan mata dan hati terbuka….., wallahu a’lam

  5. Bagaimana mungkin antum bisa makrifat kepada Alloh sedangkan pada sosok fisik sosok yang mempunyai badan wadak antum tidak sanggup makrifat?

    —haulasyiah—
    maksudnya apa ya? tolong bahasanya diperjelas sedikit

  6. Tentang kedua orang tua Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam yang masuk neraka, maka saya bersikap “sami’na- wa atho’na-“. Namun apakah seluruh “ahlul fatroh” itu masuk neraka?

    haulasyiah

    apakah seluruh “ahlul fatroh” itu masuk neraka?

    Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata ketika menjelaskan hadits “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. Hadits ini mengandung faidah bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia termasuk dari penduduk neraka, tidak akan bermanfaat pembelaan orang yang membela, dan barang siapa yang mati pada masa fathrah (kosongnya masa kenabian) dari para penyembah berhala, maka dia termasuk dari penghuni neraka, ini bukan dikarenakan belum sampai kepada mereka dakwah akan tetapi telah sampai kepada mereka da’wah Ibrahim dan Nabi-Nabi setelahnya shalatullah wa salamullahu alaihim. (Syarhun Nawawi:1/79).
    Pembicaraan beliau adalah berkaitan dengan musyirikin quraisy.

  7. saya bingung bagaimana bisa mereka mengetahui apakah orang tua nabi muhammad apakah pernah menyembah berhala setahu saya sih orang tua nabi adalah pengikut agama Ibrohim as.

    kalau mas belum tahu bisa baca sejarah, cukup banyak kok mas buku-buku sejarah. Ibnu Katsir punya, Ibnu Asakir punya, Adz-Dzahabi punya dan yang lainnya, kalau blm punya juga tersedia gratis di internet

    aaah ini siih politik nya orang quraisy yang benci sm keluarga Nabi Muhammad. jangan mau dong di doktrin.

    dari mana tahunya mas? jangan berprasangka lo, kata rasul: “prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta”,
    kalau dusta, kata rasul: “dusta itu mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran mengantarkan ke neraka” semoga Allah melindungi kita dari prasangka terutama kepada mereka para shahabat rasul.

  8. Semua dalil yg mas sampaikan hanya berupa ucapan-ucapan yang dianggap hadits. Tidak ada satu pun riwayat yg menceritakan bahkan mengisyaratkan prilaku kafir orang tua Nabi. Semoga saya terhindar dari prasangka dan keyakinan seperti mas sampaikan ini.

    Subhanallah! benar mas armand, semoga Allah memalingkan kita dari segala bentuk prasangka. tapi perlu anda ketahui bahwa yang kami nukilkan adalah hadits yang kami nukilkan dari kitab-kitab hadits ternama ahlussunnah wal jama’ah yang diriwayatkan turun temurun oleh para periwayat yang telah lulus uji, adapun pernyataan anda bahwa itu adalah ucapan yang dianggap hadits, tidak memiliki dasar sama sekali, ataukah anda memiliki alasan yang kuat ttg hal ini???

    Perlu kita sadari, bahwa Nabi Ibrahim telah mendoakan dari keturunannya sebagai pemimpin umat.
    Hanya mereka yang termasuk berlaku zalim yang tidak meliputi do’a ini.
    Al-Baqarah: 124
    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
    Dapatkah mas menunjukkan bahwa orang tua Nabi termasuk orang-orang yang zalim? Adakah riwayat mengenai kezaliman mereka?

    mas armand, betul itu adalah do’a dari nabi Ibrahim lantas Allah pun mengabulkan do’a beliau kecuali mereka-mereka yang zhalim, tahukah saudara makna zhalim? karena kita sedang berbicara masalah ayat, maka kita kembalikan pula maknanya ke ayat yang lain, Allah berfirman:
    “Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang amat besar” (QS. Luqman:13). jelas dengan sebab inilah mereka tidak mendapatkan Al-imamah (kepemimpinan).

    Kemudian Nabi Ibrahim juga telah mendoakan kepada keturunannya agar tetap berpegang dgn kalimat Tauhid.
    AzZukhruf: 28
    “Dan (lbrahim a. s.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu”

    mas armand, karena kita sedang berbicara ayat, mari kita kembalikan kepada ahlinya, berkata Imam Ali Al-Qori ketika menjelaskan ayat ini: “yakni pada anak keturunan Ibrahim, dan tidak mengharuskan mereka semua (yakni anak keturunannya semua), akan tetapi cukup sebagian mereka.”
    berkata Qotadah (murid Ibnu Abbas): “Senantiasa ada pada anak cucunya yang mengucapkan kalimat tersebut.” demiakanlah yang ditafsirkan Al-Alusi, Ibnul Jauzi, Asy-Syaukani, As-Sa’dy dan selain mereka. Jadi tidak mengharuskan semua anak keturunan Ibrahim bertauhid, akan tetapi ada di setiap generasi yang mengatakan kalimat tsb

    Menurut saya, jika mas belum yakin memiliki riwayat dan bukti yang kuat tentang kekafiran dan atau kezaliman orang tua Nabi saw, sebaiknya menghindar dari mengucapkan hal-hal yang tak sepantasnya yang hanya membuat tersinggung hati Nabi saw.

    Alhamdulillah, Ahlussunnah sejak dahulu hingga sekarang selalu berkata dan berbuat berdasarkan ilmu, mereka takut akan ancaman Allah thd siapa saja yang berkata tanpa ilmu. mas armand, berkatalah dengan ilmu, perlu diketahui bahwa yang membuat rasulullah tersinggung adalah ketika beliau tidak lagi diikuti dan ucapannya selalu didustakan, hadits-hadits beliau hanya di anggap ucapan biasa, inilah yang membuat beliau murka

    Apabila teori mas tsb memang benar, maka Nabi juga tak akan menjadi tersenyum. Namun jika ia salah, maka tunggulah di Hari Penentuan, apakah Nabi saw sudi menerima salam mas atau tidak.

    mas ini bukan teori, tapi khabar aktual dari rasulullah. keberuntunganlah bagi mereka2 yg mengikuti petunjuk

    Agar lebih berimbang mengenai apakah benar orang tua Nabi saw kafir seperti yg disampaikan di blog ini, bisa baca di blog ini juga:

    http://jakfari.wordpress.com/2008/04/21/i%E2%80%99tiqad-tentang-kekafiran-kedua-orang-tua-nabi-muhammad-saw/

    mas armand, mas armand, ketika kami membawakan hadits anda menganggapnya bukan hadits, tapi ketika anak jakfari hanya menyebutkan pernyataan imam-imam syiah eee anda anggap lain.
    kalau anda memang sudah membaca artikel itu, pasti anda dapat menyimpulkan, betapa mereka tidak memiliki dalil ttg permasalahan ini. itulah titik beda antara syi’ah dan ahlussunnah, yaitu berkata dan beramal dengan dalil, hujjah dan burhan. barakallahu fiikum

  9. Apakah mungkin orang kafir mengandung janin mulia pemimpin yang awal sampai akhir (Muhammad SAW) ? Coba anda bawakan satu riwayat saja yang menyebutkan orang tua nabi menyembah berhala atau bintang? Meskipun masa Kenabian belum datang, tidak pernahkah anda membaca prosesi akad nikah Nabi dengan Khadijah ra? Tidak pernahkan anda membaca khotbah nikah yang disampaikan Abu Thalib pada saat itu? ataukah kitab2 anda kaum wahabi memang tidak memuatnya? kalau kami Ahlus-Sunnah pasti ada.

    Sangat memungkinkan, tidakkah anda membaca sejarah hidup nabi Ibrahim, bukankah ayahnya kafir, bagaimana mungkin beliau lahir dari mani seorang kafir? Tidakkah anda membaca sejarah nabi nuh! Bukankah istrinya kafir? Bagaimana mungkin beliau akan tinggal dan bergaul dengan seorang wanita kafir? Tidakkah anda membaca sejarah nabi Luth! Bukankah istrinya kafir? Bagaimana mungkin beliau bergaul dengan seorang wanita kafir?
    Perlu diingat bahwa bahwa pernikahan yang dilakukan masyarakat Jahiliyyah adalah pernikahan yang sah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalailun Nubuwwah. Kemudian kekafiran sebagian keluarganya tidak mempengaruhi iman dan kemuliaan seseorang. Dan yang lebih penting adalah bahwa khobar ini telah dijelaskan sendiri oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka tugas kami sebagai Ahlussunnah adalah membenarkan dan tidak menolaknya.
    Adapun untuk riwayat bahwa kedua orang tua nabi dan ahlul jahiliyyah ketika itu adalah penyembah berhala inya Allah akan kami angkat dalam tema tersendiri. Barakallahu fiikum

    Yang syirik wa kafir itu datuk2nya Ibnu Tai miah, dan Ibn Abdul wahab. Jelas sekali datuk2 mereka itu di neraka jahannam.

    jangan emosi dulu mas, agama ini sudah sempurna, agama ini juga ilmiyyah, bisakah anda mendatangkan buktinya??

  10. Mas belum menunjukkan atau memberikan bukti nyata bahwa orang tua Nabi saw penyembah berhala (kafir). Adakah riwayat mengenainya?

    —haulasyiah—
    sudah saya jawab ketika menanggapi komentar saudara Muhibbin:
    Adapun untuk riwayat bahwa kedua orang tua nabi dan ahlul jahiliyyah ketika itu adalah penyembah berhala inya Allah akan kami angkat dalam tema tersendiri. Barakallahu fiikum.
    akan tetapi bagi Ahlussunnah, ketika dibacakan hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mereka mengucapkan “Sami’na wa Atho’na”

  11. Mas menulis:

    Perlu diingat bahwa bahwa pernikahan yang dilakukan masyarakat Jahiliyyah adalah pernikahan yang sah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalailun Nubuwwah

    tolong ditampilkan bahasa Arabnya.

    Lalu, apakah kedua orang tua Rosululloh termasuk penyembah berhala, Nasrani, Majusi ataukah Yahudi?

    Thx before.

    —haulasyiah—
    Orang tua beliau termasuk musyrikin.
    Berikut pernyataan Al-Imam Al-Baihaqi Dalail An-Nubuwah 1/192-193):
    وكيف لا يكون أبواه وجده بهذه الصفة في الآخرة ، وكانوا يعبدون الوثن حتى ماتوا ، ولم يدينوا دين عيسى ابن مريم عليه السلام ؟ وأمرهم لا يقدح في نسب رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ لأن أنكحة الكفار صحيحة ، ألا تراهم يسلمون مع زوجاتهم فلا يلزمهم تجديد العقد ، ولا مفارقتهن إذا كان مثله يجوز في الإسلام؟ . وبالله التوفيق

  12. Thx 4 ur explanation.

    Kalo diperbolehkan, saya ingin tanya lagi:

    “Apakah orang tua Rosul di neraka selama2nya?”

    Benar, mereka kekal didalamnya sebagaimana halnya orang-orang kafir lainnya.

    Saya baca di buku “Sirah Nabawiyah” oleh Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury (juara I lomba penulisan sejarah Nabi oleh Rabithah Al-Alam al-Islamy) disebutkan Bani Al-Khuzaa’i berkuasa sekitar pertengahan abad II M. Itu berarti ratusan tahun sebelum Rosululloh lahir (sekitar 300-350 tahun).

    Jd, penyembahan berhala yg dimulai oleh ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i dimulai oleh generasi jauh di atas Rosul.

    Nah, Abdul Muttolib, Abdulloh & Aminah tentu tidak tahu bahwa itu sebuah kesalahan fatal. Di Al-Qur’an sendiri orang2 Jahiliyah mengatakan bhw berhala itu utk mendekatkan diri kpd Alloh. Jd, mereka tdk tahu bhw itu salah besar.

    “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” [Az-Zumar : 3)

    Seandainya kita katakan bahwa mereka memang tidak mengetahui bahwa menyembah berhala adalah perbuatan kufur, itu tidak membuat mereka bebas dari kekufuran dan kesalahan. Karena, hujjah Allah telah turun kepada mereka.
    Kalau Saudara Pencari_Kebenaran memakai logika seperti itu, berarti bisa dipraktekan di setiap jaman dan tempat. Kalau seandainya di jaman sekarang di sebuah daerah ada orang-orang kafir yang menyembah selain Allah dalam keadaan tidak tahu bahwa itu sebuah kesalahan dan kekufuran, apakah perbuatannya bisa dibenarkan? Tentu tidak, karena dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berarti hujjah Allah telah tegak diatas bumi. Maka demikian pula dengan kaum musyrikin Jahiliyah, dengan diutusnya Nabi Ibrahim (dan syari’at itu masih ada ditengah-tengah mereka) maka hujjah Allah telah tegak atas mereka.
    Dalil yang menunjukkan atas hal ini banyak sekali. Bisa dibaca kembali kisah Ibnu Jud’an, seorang yang sangat dermawan pada masa jahiliyah. Keadaannya ditanyakan ‘Aisyah kepada Rasulullah: “”Apakah perbuatannya bermanfaat baginya?” “Tidak”, jawab Rasulullah.
    Kemudian Saudara Pencari_Kebenaran, seseorang itu divonis sesat atau kafir bukan ketika dia tahu bahwa apa yang dia lakukan itu kesesatan dan kekufuran, kalau demikian maka tidak tepat ketika Rasulullah mengkhabarkan bahwa ‘Amr bin Luhai Al-Khuzaa’i di neraka sedang menarik-narik ususnya, karena tentu ia tidak tahu kalau perbuatannya itu adalah kesalahan dan kekufuran.

    Adapun berkaitan dengan ayat pada surat Az-Zumar yang saudara sebutkan justru menunjukkan kekafiran mereka, coba ayat tersebut dibaca dengan lengkap.

    Selain itu, saya tdk menemukan dlm sirah bhw para pendeta semisal Waraqah bin Naufal, Buhaira dll melakukan dakwah utk memurnikan ajaran Ibrohim/Musa/Isa.

    Itu berarti tdk ada peringatan ttg kesalahan menyembah berhala kpd Abdul Muttolib, Abdulloh dan Aminah. Mereka melakukan itu krn kondisi masyarakat ya spt itu sejak dulu & mereka ga tahu itu salah.

    Bgmn kita menghukumi mereka masuk neraka selamanya kalau tdk ada peringatan thd mereka?

    Mengapa pendeta2 spt Waraqah, Buhaira tdk berdakwah memurnikan tauhid? Bukankah mendiamkan penyimpangan aqidah itu sebuah kesalahan? Ataukah memang tdk ada perintah u/ itu krn para Nabi/Rosul sebelum Rosululloh diutus terbatas tempat & waktunya?

    Jika tdk ada peringatan datang, apa mereka tidak termasuk golongan fatrah? Kalaupun masuk neraka juga tidak selama2nya atau walaupun diperintahkan masuk neraka tdk akan kepanasan spt yg dimaksud dlm hadits yg terjemahnya:

    “Dan orang yg mati di masa fatrah berkata: Wahai Rabbku, belum pernah seorang rosul datang pdku. Kemudian Alloh mengambil perjanjian dg mereka utk taat pd perintah-Nya lalu Allah mengutus seorang utusan (menyerukan): ‘Masuklah ke Neraka.’ Nabi bersabda: Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka memasuki Neraka, niscaya mereka akan mendapati rasa dingin dan keselamatan” (HR Thabrani dlm Mu’jam Kabir (1/287), Ahmad (4/24), Ibnu Hibban (1828), Bazzar (2174), Baihaqi dlm Al-I’tiqad(92). Dishahihkan Abdul Haq, Baihaqi, Ibnul Qayyim & Syaikh Albani dlm As-Shahihah no. 1434).

    “dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isro’ : 15)

    Menghukumi kedua orang tua Rasul sebagai Ahlul Fathroh mengharuskan untuk menyertakan semua kaum musyrikin jahiliyah sebelum nabi juga sebagai Ahlul Fathroh, ini adalah kekeliruan yang besar. Adapun mengkhususkan untuk kedua orang tua rasul harus ada dalil khusus. Sementara hadits-hadits yang ada justru berkata lain.
    Al-Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka” berkata : “Di dalamnya (terkandung faidah): ‘Bahwa siapasaja yang meninggal diatas kekafiran maka dia akan masuk Neraka, tidak akan bermanfaat baginya (pembelaan) kerabat dekatnya. Dan didalamnya (juga terkandung faidah) bahwa siapasaja yang meninggal pada masa fathroh (sebelum diutusnya nabi ) yang dialami bangsa arab ketika itu dari para penyembah berhala, maka termasuk penghuni Neraka. Hukuman ini bukan disebabkan belum sampai kepada mereka dakwah, karena sesungguhnya telah sampai kepada mereka dakwah nabi Ibrohim dan para nabi setelahnya shalawatullah ta’ala wa salamuhu ‘alaihim.” (Al-Minhaj Syarhu Muslim ibnil Hajjaj).
    Ucapan senada juga disebutkan oleh Asy-Syaikh Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.159, “Sesungguhnya Ahlul Jahiliyah yang meninggal sebelum kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan diadzab, disebabkan kesyirikan dan kekufuran mereka. Itu semua menunjukkan bahwa mereka bukanlah ahlul fathroh yang belum sampai kepada mereka dakwah nabi. Berbeda dengan apa yang diyakini sebagian orang sekarang. Karena jika seandainya mereka demikian (Ahlul fathroh), maka mereka tidak berhak untuk diadzab, dengan dasar firman Allah, ‘Dan Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang rasul.’ Kemudian beliau (Syaikh Al-Albany) menyebutkan perkataan Imam Nawawi diatas. (As-Silsilah no.159)

    Yang lebih menunjukkan bahwa kaum arab yang meninggal pada masa jahiliyyah bukan ahlul fathrah adalah hadits ‘Aisyah tentang Ibnu Jud’an yang dahulu di jaman Jahiliyah selalu menyambung silaturahmi dan memberi makan orang miskin akan tetapi itu semua tidak memberikan manfaat baginya.”
    Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan, “Padanya juga terdapat faidah bahwa orang jahiliyah yang meninggal sebelum kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bukan Ahlul fathroh, yaitu orang-orang yang belum sampai kepada mereka dakwah Rasul. Karena jika mereka demikian (termasuk Ahlul fathroh) tentu Ibnu Jud’an tidak berhak mendapatkan adzab, dan amalan shalihnya tentu tidak akan hilang.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no.249)..

    Ditempat yang lain lagi ketika menjelaskan hadits: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di Neraka.” Beliau mengatakan, ‘Semuanya menunjukkan bahwa barangsiapa yang meninggal di jaman Jahiliyyah dalam keadaan musyrik maka dia di Neraka dan bukan Ahlul fathroh sebagaimana yang disangka sebagian manusia, terkhusus Syi’ah dan orang-orang yang terpengaruh dengan ajaran mereka.” (Ash-Shahihah, no.2592) Kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits yang telah kami sebutkan diatas.

    Dari hal2 tsb., saya berkesimpulan bhw orang tua Rosul termasuk golongan fatrah, jd kalaupun masuk neraka tdk selamanya atau bahkan tdk kepanasan.

    Tolong dikoreksi jika salah. Bgmn menurut mas?

    Thx before.

    Dari urairan kami diatas menunjukkan bahwa kesimpulan saudara Pencari_Kebenaran kurang tepat atau dalam bahasa lain bertentangan dengan hadits-hadits shahih tentang mereka yang telah kami sebutkan diatas. barakallahu fiik

  13. Maaf, tambahan:

    Kenapa kok ayah Rosul bernama Abdulloh? Tidakkah itu berarti hamba Alloh? Itu berarti Abdul Muttolib meyakini Alloh sbg Robb. Hanya sj, ia tdk tahu bhw berhala itu merusak ajaran Ibrohim.

    Kami Ahlus Sunnah meyakini bahwa kaum musyrikin Jahiliyah mengakui bahwa Allah adalah Rabb mereka. Makna Rabb adalahh: pencipta, pengatur, dan pemberi rezeki. Hal ini dengan jelas Allah sebutkan dalam Al-Qur’an. Bahkan, dalam ayat yang Saudara Pencari_Kebenaran sebutkan sebelumnya juga menunjukkan atas hal tersebut: “….. Kecuali agar ia mendekatkan kami kepada Allah.” Namun sayang, meyakini Allah sebagai Rabb tidak cukup memasukan seseorang kepada Al-Islam, kalau demikian maka orang-orang musyrikin ketika itu semuanya beriman, lalu mengapa Allah dan Rasul-Nya menghalalkan darah dan harta mereka? Kemudian, kalau memang demikian tentu orang-orang Nashrani dan Yahudi juga dikatakan mukmin karena mereka semua meyakini Allah adalah Rabb.

    Lalu apa yang menyebabkan mereka tetap dihukumi kafir? karena mereka berbuat kesyiirikan, kaum musyirikin menyembah berhala, orang-orang Yahudi menyembah Uzair, orang-orang Nashrani menyembah Al-Masih. Oleh karena itu Rasulullah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH.”

    Orang-orang Musyirikin, Yahudi, dan Nashrani tidak mengucapkannya karena konsekuensi dari ucapan tersebut adalah meninggalkan sebuah sesembahan selain Allah. Orang musyrikin berkata: “Apakah dia (Muhammad) mau menjadikan tuhan-tuhan (yang banyak ini) hanya satu.”

    Syaikh Shafiyyur Rahman juga menulis di Bab AGAMA BANGSA ARAB hal. 50:

    “Mereka jg mempunyai beberapa tradisi & upacara penyembahan berhala, yg mayoritas diciptakan amr bin Luhay. Sementara orang2 mengira apa yg diciptakan Amr itu adalah sesuatu yg baru & baik serta tdk merubah agama Ibrahim .

    Nah, jelas bhw Abdul Muttolib dst tdk tahu itu kesalahn fatal. Selain itu juga, Imam Baihaqi menulis di Dalailun Nubuwah ttg Mengapa Abdul Muttolib memberi nama “Muhammad”. Dia ingin agar bayi tsb. Allah memujinya di langit & di dunia.

    فلما كان اليوم السابع ذبح عنه ، ودعا له قريشا ، فلما أكلوا قالوا : يا عبد المطلب ، أرأيت ابنك هذا الذي أكرمتنا على وجهه ، ما سميته ؟ قال : سميته محمدا . قالوا : فلم رغبت به عن أسماء أهل بيته ؟ قال : أردت أن يحمده الله تعالى في السماء ، وخلقه في الأرض

    Selain itu, Abdul Muttolib & Aminah (setahu saya) jg mengerti akan kelahiran seorang Nabi dr keturunan mereka. Dan beliau berdua bangga akan hal itu, tdk spt Fir’aun yg memerintahkan membunuh semua bayi yg baru lahir.

    Ini juga diantara yang menunjukkan bahwa mereka meyakini keberadaan Allah. Namun, keyakinan mereka ini belum bisa menyelamatkan mereka dari ancaman adzab. Karena pada prakteknya mereka masih menyekutukan Allah.

    Kebangaan & Kebahagiaan beliau berdua sdh menjadi isyarat bhw mereka berdua mengimani Nabi2 terdahulu & Rosul, serta tak tahu kesalahan selama ini ttg berhala.

    Imam Baihaqi menulis lagi:
    فقال لي رجل من أهل الزبور : يا عبد المطلب : أتأذن لي أن أنظر إلى بدنك ؟ فقلت : انظر ما لم يكن عورة . قال : ففتح إحدى منخري (2) فنظر فيه ، ثم نظر في الآخر ، فقال : أشهد أن في إحدى يديك ملكا ، وفي الأخرى نبوة ، وأرى ذلك في بني زهرة ، فكيف ذلك ؟ فقلت : لا أدري . قال : هل لك من شاعة ؟ قال : قلت : وما الشاعة ؟ قال : زوجة . قلت : أما اليوم فلا . قال : إذا قدمت فتزوج فيهن . فرجع عبد المطلب إلى مكة ، فتزوج هالة بنت وهب بن عبد مناف ، فولدت له : حمزة ، وصفية . وتزوج عبد الله بن عبد المطلب ، آمنة بنت وهب ، فولدت رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقالت قريش حين تزوج عبد الله آمنة : فلج (3) عبد الله على أبيه . وقد قيل : إنها كانت امرأة من خثعم »

    Menurut saya nih Mas, dg hal2 tsb. semakin yakinlah saya bhw beliau berdua termasuk fatrah. Jika pun masuk neraka tak kekal atau mendapati rasa dingin dan nyaman.

    NB : Buku Sirah Nabawiyah yg saya maksud terjemahan Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Cet. kelima, Des 1998

    Thx before.

    Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditanya: Allah berfirman di dalam kitab-Nya yang Mulia: “Dan Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang rasul” dan diriwayatkan dibeberapa hadits, rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengkhabarkan bahwa kedua orang tuanya di neraka. Pertanyaannya adalah: Bukankah keduanya termasuk Ahlul fathroh, dan Al-Quran dengan jelas menunjukkan bahwa mereka selamat? Afiduuna afadakumullah.

    Beliau menjawab: “Ahlul fathroh, tidak ada dalam Al-Quran yang menunjukkan bahwa mereka selamat atau binasa, Allah hanya mengatakan: “Dan Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang rasul” Allah Jalla wa ‘Ala diantara kesempurnaan sifat adil-Nya adalah tidak akan mengadzab seorangpun sampai Dia mengutus kepadanya seorang rasul. Maka siapa saja yang belum sampai kepadanya dakwah maka tidak akan diadzab sampai ditegakkan hujjah atasnya.

    Allah telah mengakhabarkan bahwa tidak akan mengadzab sampai menegakkan hujjah, dan hujjah akan ditegakkan pada hari kiamat, sebagaimana yang dijelaskan dalam sunnah bawa ahlul fathroh akan diuji pada hari itu, barangsiapa yang menjawab dan … maka dia selamat, dan barangsiapa yang ingkar masuk neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di Neraka” tatkala ada seorang yang bertanya tentang bapaknya, beliau menjawab: “di Neraka” ketika beliau melihat perubahan pada wajahnya beliau menambahkan: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di Neraka” diriwayatkan Muslim dalam shahihnya.

    Beliau mengatakan demikian untuk tasliyah dan agar orang tadi tahu bahwa hukum tersebut bukan hanya kusus untuk bapaknya. Sepertinya kedua orang ini telah sampai dakwah -maksudku bapak si penanya dan bapak nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-, oleh karena itu nabi mengatakan: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di Neraka” rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakannya diatas ilmu, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah berbicara dengan hawa nafsu, Allah berfirman: “……dan tidaklah dia (Muhammad ) berbicara dengan hawa nafsu * tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan” ….

  14. Thx 4 ur explanation

    1. Mas menulis:

    Kalau seandainya di jaman sekarang di sebuah daerah ada orang-orang kafir yang menyembah selain Allah dalam keadaan tidak tahu bahwa itu sebuah kesalahan dan kekufuran, apakah perbuatannya bisa dibenarkan? Tentu tidak, karena dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berarti hujjah Allah telah tegak diatas bumi.

    di Tafsir Ibnu Katsir suroh Al-Isro’ : 15 jelas dinyatakan harus ada diutusnya Rosul. Yg namanya Rosul, di manapun, ya hadir di tengah2 masyarakat. Utk saat ini, berarti ada berita lewat media apa pun.
    Berarti pernyataan sampean tdk sesuai tafsir.

    إخبار عن عدله تعالى، وأنه لا يعذب أحدًا إلا بعد قيام الحجة عليه بإرسال الرسول إليه

    lalu, jika di pedalaman Papua yg belum mengerti/mendengar/tahu krn belum ada TV, radio, da’i, muballigh dll ttg Islam, apakah mereka dihukumi masuk neraka selamanya…? bgmn bs spt ini…?

    bukankah sdh jelas di hadits yg saya bawakan:
    “Wahai Rabbku, belum pernah seorang rosul datang PADAKU.”

    kata “PADAKU” berarti ada berita. Kalo gak ada berita, ya ga bisa dihukumi. Jika sampean menghukumi spt itu, bgmn istinbath hukumnya, tolong sampean terangkan.

    Ttg ‘Amr bin Luhai Al-Khuzaa’i , dialah pencipta penyembahan berhala pertama kali & sdh tertera dg jelas uraian Syaikh Shafiyyur Rahman bhw orang2 lain mengira tdk merubah agama Ibrohim. Apalagi generasi jauh di bawahnya, semisal Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah :

    “Sementara orang2 mengira apa yg diciptakan Amr itu adalah sesuatu yg baru & baik serta tdk merubah agama Ibrahim.”

    Ttg Ibnu Jud’an. Pertanyaan Bunda Aisyah adalah “Apakah amal2nya bermanfaat?”

    Ini menimbulkan pertanyaan:
    a. Pada tahun berapakah Ibnu Jud’an wafat? Apakah ketika Rosul masih kecil ataukah setelah beliau jd Nabi hanya saja belum diajak masuk Islam? Tolong sampean jawab krn saya tdk menemukan riwayat ttg ini.

    b. Asumsikan saja Ibnu Jud’an mati ketika Rosul belum diangkat jd Nabi.

    Imam Nawawi menjelaskan bhw yg tdk mengakui hari Kebangkitan, maka tdk bermanfaat amalnya. Jd, jelas Ibnu Jud’an tdk mengakui hari kebangkitan.

    أَيْ لَمْ يَكُنْ مُصَدِّقًا بِالْبَعْثِ ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّق بِهِ كَافِر وَلَا يَنْفَعهُ عَمَل

    Nah, tdk ada pernyataan yg sharih (jelas) dr Rosul bhw Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah tdk mengakui hari Kebangkitan. Hukum tdk bisa hanya berdasarkan prasangka.

    Hal yg nyata adalah mereka tetap menyembah Alloh & tdk tahu bhw berhala itu salah besar. Hal ini sdh saya ulas. Selain itu, mereka juga bangga & bahagia krn akan lahir Nabi dr mereka. Ini ada di no 2.

    2. Mas menulis lg:

    Orang-orang Musyirikin, Yahudi, dan Nashrani tidak mengucapkannya karena konsekuensi dari ucapan tersebut adalah meninggalkan sebuah sesembahan selain Allah. Orang musyrikin berkata: “Apakah dia (Muhammad) mau menjadikan tuhan-tuhan (yang banyak ini) hanya satu.”

    Apa mas tahu bhw Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah tdk mau mengucapkannya…? bukankah mereka telah tiada sebelum Rosululloh resmi jd rosul? Jangan berprasangka, krn kita dilarang berprasangka.

    Imam Baihaqi telah menulis bhw Abdul Mutolib tahu dr keturunannya akan lahir Nabi, bahkan sebelum dia menikah. Siapa dong nabi setelah Isa? Ya jelas Nabi Ahmad spt tertera dlm kitab2 sebelumnya. Tolong sampean lihat lagi, yg menerangkan itu ulama ahli Zabur, jd bukan dukun. Tentu kabar yg disampain bs diterima oleh siapa pun, termasuk kita umat Islam.

    Jika Abdul Mutolib ingkar ngga mau meninggalkan sesembahan selain Alloh, tentu sdh dibunuh sejak bayi spt kisah Nabi Musa. Tp, kan tdk. Itu berarti Abdul Mutolib ga tahu bhw berhala itu salah besar.

    Imam Baihaqi jg menulis keajaiban2 tatkala Rosululloh lahir. Jd, Abdul Mutolib & Aminah tentu tahu bhw bayi itulah yg akan membawa risalah nubuwah, penerus millah Ibrohim.

    Knp? krn keajaiban2 yg terjadi. Kalo yg lahir bayi biasa, tentu tdk ada hal2 aneh yg terjadi. Begitu pula peristiwa saat Rosululloh umur 4 thn & dibelah dadanya oleh malaikat, shg oleh Halimah, Rosululloh dikembalikan lg ke ibu beliau, Aminah.

    Tuduhan Mas scr implisit bhw Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah akan mengingkari nubuwah Rosululloh jelas tak terbukti scr ilmiah. Sejarah telah membuktikan bhw beliau2 merawat Rosul, bukan berusaha membunuhnya spt yg dilakukan Fir’aun.

    Thx before. Senang sekali berdiskusi dg Mas. Sorry jika saya kelihatan terlalu bersemangat shg ada kata2 yg agak keras…

    —haulasyiah—
    Maaf, sudah dua mingguan belum bisa “ngutak-atik” blog.

    Saudara Pencarian_Kebenaran sepertinya terlalu memaksakan bahwa orang-orang musyrik jahiliyah terkhusus kedua orang tua Rasul adalah ahlul fathroh, padahal hadits-hadits yang kami sebutkan diatas dengan jelas menunjukkan selain itu.
    Demikian pula yang menunjukkan bahwa Musyrikin Jahiliyah bukan Ahlul fathroh adalah hadits a’roby yang datang kepada nabi menanyakan perihal bapaknya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku dahulu selalu menyambung silaturahmi, dan dia, dan dia….. dimanakah dia? Jawab Rasul: “Dineraka.”
    Pada hadits ini tidak disebutkan perihal jelas bapak arab badui tersebut, maka keadaannya sama seperti bapak rasul yang tidak diketahui perihalnya dengan jelas. Namun, wahyu Allah telah menghukumi mereka semua sebagai ahlun naar.
    Kalau kita katakan bahwa kedua orang tua rasul yang tinggal di keramaian kota madinah ketika itu sebagai ahlul fathroh maka bapak badui tersebut lebih berhak menyandang ahlul fathroh, karena ia tinggal jauh dari keramaian dan jauh kemungkinan kedatangan seorang muballigh yang menyampaikan dakwah tauhid.
    Kalau kita katakan mungkin saja ia menyembah berhala atau tidak pernah beristighfar oleh karena itu ia dihukumi sebagai penduduk neraka, maka demikianlah kiranya kita katakan kepada kedua orang tua rasul. Kalau mereka bertauhid mana mungkin Rasulullah sebagai manusia paling beradab dan paling mulia menetapkan kedua orang tuanya sendiri sebagai penduduk neraka.

    Mungkin ada yang mengatakan mungkin saja mereka akan masuk neraka namun tidak merasakan panasnya, pernyataan-pernyataan tentang perkara ghaib seperti ini membutuhkan dalil khusus. Yang menunjukkan bathilnya pernyataan ini adalah hadits yang diriwayatkan Abu ‘Awanah dari Buraidah bin Hushaib dengan lafazh:
    Kami dahulu (keluar) bersama nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan (pertempuran), (ketika itu) kami berjumlah kurang lebih 1000 orang, kemudian nabi  shalat mengimami kami dua raka’at, (setelah selesai) beliau menghadap ke arah kami, dalam keadaan melinangkan air mata, maka bangunlah Umar bin Al-Khattab, seraya menjadikan bapak dan ibunya sebagai tebusan, kemudian Umar bertanya, ‘Wahai rasulullah! Ada apa denganmu?’ beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku memohon kepada Rabbku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, akan tetapi Dia tidak mengijinkannya, maka mengalirlah air mataku karena kasihan padanya, dia mendapatkan api neraka….” (HR.Abu ‘Awanah).

    Pada riwayat Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwah ada tambahan lafazh , “Umar bertanya: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai rasulullah?’ beliau menjawab, ‘ini adalah kuburan Aminah bintu Wahb, Aku meminta ijin kepada Rabbku untuk menziarahi kuburannya, akupun diberi ijin, kemudian aku meminta ijin untuk memohonkan ampunan untuknya, akan tetapi Dia tidak mengijinkanku. Aku merasakan rintihannya (karena adzab) maka akupun menangis.’ Umar berkata, ‘Aku tidak pernah melihat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menangis lebih dari waktu itu…..’”

    Pada hadits Ibnu Mas’ud terdapat tambahan: Kemudian turunlah ayat: “Tidak sepantasnya bagi nabi untuk memintakan ampun bagi orang musyrikin walaupun mereka kerabat dekat….” Sampai ayat: “dan tidaklah permohonan ampun Ibrohim untuk bapaknya …”… (HR. Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf)

    Maka cukuplah kiranya riwayat-riwayat diatas sebagai hakim atas permasalahan yang kita perselisihkan. Barakallahu fiikum

  15. tambahan:

    Yg saya bahas memang hanya Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah.

    Utk yg lain, hukumnya sama bila memang keadaan/kejadiannya sama.

    Thx before.

  16. Maaf, tambahan lg u/ menguatkan :

    di tafsir Ibnu Katsir suroh Al-Isro’ : 15, tertera kalimat:

    بإرسال الرسول إليه

    Jelas ada kata “ilaihi”. Jd, bila ga ada berita, yg gak bisa dihukumi.

    Thx before🙂

  17. Tentang pendapat Syaikh Albani spt yg Mas tulis:

    Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan, “Padanya juga terdapat faidah bahwa orang jahiliyah yang meninggal sebelum kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bukan Ahlul fathroh, yaitu orang-orang yang belum sampai kepada mereka dakwah Rasul. Karena jika mereka demikian (termasuk Ahlul fathroh) tentu Ibnu Jud’an tidak berhak mendapatkan adzab, dan amalan shalihnya tentu tidak akan hilang.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no.249)..

    Krn hormat saya kpd Syaikh Albani, sebetulnya saya ga mau membahas pendapat beliau. Beliau adalah ulama, sedangkan saya hanya orang biasa.

    Tp, demi menyampaikan kebenaran spt yg Mas katakan, maka menurut saya pendapat Syaikh Albani kurang tepat.

    Kenapa? krn pertanyaan bunda Aisyah itu dijawab oleh Rosululloh bhw Ibnu Jud’an tdk pernah sehari pun memohon ampun atas kesalahannya di hari Kiamat.

    قَالَ : لَا يَنْفَعهُ ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبّ اِغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْم الدِّين

    Jd, Ibnu Jud’an tidak bisa disebut ahli fatrah krn dia mengingkari hari Kebangkitan. Demikian penjelasan Imam Muslim.

    لَمْ يَقُلْ رَبّ اِغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْم الدِّين ) أَيْ لَمْ يَكُنْ مُصَدِّقًا بِالْبَعْثِ ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّق بِهِ كَافِر وَلَا يَنْفَعهُ عَمَل

    Thx before.

    —haulasyiah—
    Anggaplah Ibnu Jud’an seperti yang saudara sebutkan, lalu bagaimana dengan bapak a’raby yang selalu menyambung silaturahmi dan lain-lain, tidak dijelaskan apakah ia menyembah berhala atau tidak, toh Rasulullah menghukuminya sebagai penduduk neraka. maka demikian pula kiranya keadaan kedua orang tua Rasul. Terlebih ada riwayat-riwayat dari Rasul yang telah menjelaskan permasalahan ini, mengapa kita masih memaksakan?!

  18. Utk hadits a’roby , tolong disebutkan juga kitabnya. Saya ada Maktabah Syamilah, biar saya pelajari.

    Thx before

    —haulasyiah—
    عَنْ أَنَسٍ  أَنَّ رَجُلاً قاَلَ: ياَ رَسُوْلَ الله! أَيْنَ أَبِيْ؟ فَقَالَ: “فِي النَّارِ” فَلَمَّا قَفَّى؛ دَعَاهُ، فَقَالَ: “إِنَّ أَبِيْ وَأَباَكَ فِي النَّارِ”.

    Takhirjul hadits
    Hadits ini diriwayatkan oleh:
    1. Imam Muslim dalam Shahih-nya; Kitabul Iman, Bab Bayani anna man Mata ‘alal Kufri Fahuwa fin Naar wala Tanaluhu Syafa’atun wala Tanfa’uhu Qarabatul Muqarrabin, no. 302.
    2. Abu Daud dalam Sunan-nya: Kitabus Sunnah, Bab fi Dzarariyil Musyrikin, no.4095.
    3. Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwah: Bab Dzikri Wafati Abdillah Abi Rasulillah  wa Wafati Ummihi Aminah binti Wahb wa Wafati Jaddihi Abdil Muththallib bin Hasyim, no.104.
    4. Abu ‘Awanah dalam Musnad-nya: Kitabul Iman Bab Tahwinil Adzab ‘ala Abi Thalib bi Syafa’ati Muhammadin shalallahu ‘alaihi wasallam, wa Annahu la Tanaluhu Syafa’atuhu bi Najatihi wa Najjahullahu min An-Naar, wal Kafir la Yanfa’uhu Ma’rufuhu Idza Mata, no.215.
    5. Abu Ya’la dalam Musnad-nya: Bab Tsabit Al-Bunani ‘an Anas, no.3422.
    6. Ibnu Hiban dalam kitab Shahih-nya: Kitabul Birr wal Ihsan Bab Ash-Shuhbah wal Mujalasah, no.580.

    عَنْ سَعْدٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ ، فَقَالَ : إِنَّ أَبِي كَانَ يَصِلُ الرَّحِمَ ، وَكَانَ وَكَانَ ، فَأَيْنَ هُوَ ؟ ، قَالَ : فِي النَّارِ ، فَكَأنَّ الأَعْرَابِيَّ وُجِدَ مِنْ ذَلِكَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَأَيْنَ أَبُوكَ ؟ ، قَالَ : حَيْثُ مَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ، قَالَ : فَأَسْلَمَ الأَعْرَابِيُّ بَعْدُ ، فَقَالَ : لَقَدْ كَلَّفَنِي رَسُولُ اللَّهِ  تَعَبًا ، مَا مَرَرْتُ بِقَبْرِ كَافِرٍ إِلا بَشَّرْتُهُ بِالنَّارِ.

    Takhrijul hadits
    1. Ibnu Majah dalam Sunannya: Ma ja’a fil Janaiz Bab Ma ja’a fi Ziarati Quburil Musyrikin, no.1562.
    2. Abdurrazzaq dalam Mushannafnya
    3. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabir
    4. Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwah: Bab Dzikri Wafati Abdillah Abi Rasulillah shalallahu ‘alaihi wasallam wa Wafati Ummihi Aminah binti Wahb wa Wafati Jaddihi Abdil Muththallib bin Hasyim, no.105.
    5. Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah: Ma’rifatu ma Asnada Sa’d bin Abi Waqash ‘anin Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Rawa ‘anhu minal Mutun Siwath Thuruq Miata Haditsin wa Nifan, Famin Shihahi Haditsihi wa Gharaibihi Masanidihi, no.522.
    Semuanya melalui jalur Zuhri dari ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya (Sa’d bin Abi Waqqash). Hanya saja pada riwayat Abdurrazzaq disebutkan dari Zuhri secara mursal, akan tetapi tidak berpengaruh karena telah dijelaskan dalam riwayat-riwayat yang lain secara maushul (bersambung sampai ke Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam).

    Derajat hadits
    Hadits ini shahih. Dishahihkan para ulama ahlul hadits, diantaranya adalah Asy Syaikh Al Albany Rahimahullah. Beliau berkata di dalam kitabnya Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah no.18:
    Diriwayatkan Ath-Thabarani (1/19/1) telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul ‘Aziz, memberitakan kepada kami Muhammad bin Abi Nu’aim Al-Wasithi, memberitakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Zuhri dari Amir bin Sa’d dari bapaknya: “datang seorang arab badui….(seperti diatas)
    Aku (Syaikh Al Albani) katakan: “Hadits ini sanadnya shahih, para perowinya semuanya kuat dan dikenal, celaan Ibnu Ma’in terhadap Muhammad bin Abi Nu’aim tidak berlaku setelah adanya tautsiq (pujian) dari Ahmad dan Abu Hatim kepadanya. Disamping itu juga terdapat mutaba’ah (penguat) pada sanadnya, yang diriwayatkan Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtaroh (1/333) dari dua jalan, dari Zaid bin Akhzam, menghabarkan kepada kami Yazid bin Harun, memberitakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dengannya (sama dengan sanad Ath-Thabarani diatas).” Setelah menyebutkan perkataan Ad-Daraquthni beliau melanjutkan. “Aku katakan, ‘riwayat ini yang kami sebutkan menguatkan (riwayat) al-muttashil (yang bersambung).”
    Lihat: Ash-Shahihah, no.18. Ahkamul Janaiz, Shahih As-Sirotin Nabawiyah, no.27. Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah, no.1573. Shahih wa Dha’if Al-Jami’ush Shaghir, no.5476.

    عَنْ أَبِيْ رَزِيْن العُقَيْلِي قَالَ قُلْتُ ياَرَسُوْلَ الله أَيْنَ أُمِّيْ قاَلَ: “أُمُّكَ فِي النَّارِ” قال قلت: “فَأَيْنَ مَنْ مَضَى مِنْ أَهْلِكَ” قال: أَماَ تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ أُمُّكَ مَعَ أُمِّيْ”.
    Dari Abu Razin Al-‘Uqaili, dia berkata: “Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah! dimana ibuku?’ Beliau menjawab, ‘di Neraka.’ Aku bertanya lagi, ‘Dimana keluargamu yang telah dahulu meninggal?’ beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau senang jika ibumu sama dengan ibuku.”

    Takhirjul hadits
    1. Al-Imam Ahmad dalam Musandnya: Musnad Al-Madaniyiin, Hadits Abi Razin Al-‘Uqaili Laqith bin ‘Amir Al-Muntafiq radhiallahu ‘anhu, no.15600.
    2. Al-Imam ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabir, no.15802.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: