HADITS “AKU KOTA ILMU DAN ALI PINTUNYA”

 

أَناَ مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌ باَبُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

Aku kota ilmu dan Ali pintunya, barangsiapa yang menginginkan ilmu maka hendaklah dia mendatangi ilmu tersebut dari pintunya”.

Maudhu’ (hadits palsu)

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thabari di dalam “Tahdzibul Atsar”, Ath-Thabarani di dalam “Al-Mu’jamul Kabir 3/108/1”, Al-Hakim 3/126, Al-Khathib di dalam “Tarikh Baghdad 11/48, Ibnu Asakir “Tarikh Dimasyq 12/159/2

Sanad hadits
Hadits ini melalui jalur seorang rawi yang bernama Abu Shult Abdus Salam Al-Harawi.

Berkata Adz-Dzahabi di dalam kitabnya “Adh-Dhu’afa’ wal Matrukiin”: “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits“.

Berkata Abu Zur’ah: “Tidak kokoh“.

Berkata Ibnu ‘Adi: “Tertuduh“.

Dan ulama’ lainnya berkata: “rafidhi (beraqidahkan syi’ah rafidhah)“.

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar: “dia adalah seorang yang shaduq, meriwayatkan hadits-hadits munkar, dan terkena pengaruh syi’ah, Al-Uqaili berlebihan ketika mengkritiknya sebagai Kadzdzab (pendusta)”.

Matan (kandungan) hadits

Berkata Yahya bin Ahmad bin Ziyad: “Aku bertanya kepadanya (Ibnu Ma’in) tentang hadits yang diriwayatkan dari jalur Abu Shulth dari Abu Mu’awiyah dari A’masy: haditsnya Ibnu ‘Abbas (hadits diatas)? Maka Ibnu Ma’in mengingkari hadits tersebut“. (dikeluarkan oleh Al-Khathib)

Berkata Ibnu Qudamah di dalam kitabnya “Al-Muntakhib 10/204/1): “Hadits dusta tidak ada asalnya“.

Berkata Ibrahim bin Junaid: Yahya bin Ma’in pernah ditanya tentang Umar bin Ismail bin Mujalid bin Sa’id? Dia menjawab: “Pendusta, dia juga meriwayatkan dari Abu Mu’awiyah dari A’masy: (yaitu hadits) Aku kota ilmu dan Ali pintunya…..”. hadits ini dusta tidak ada asalnya.

* hadits ini diriwayatkan dari beberapa sanad yang kesemuanya palsu sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah.

Dari penjelasan para ulama’ pakar hadits diatas kiranya cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa hadits tersebut palsu tidak dapat dijadikan sandaran hukum. Wallahu a’lam

4 Tanggapan

  1. http://jakfari.wordpress.com/2007/08/20/bantahan-vonis-palsu-atas-ana-madinatul-ilmi-1/

    buat pembanding…biar seru

    mas eagle… Tulisan Ibnu Jakfari diatas menunjukkan bahwa ia tidak paham ilmu hadits.
    mas eagle…. Jika ditinjau dari sisi Ilmu Mustholah, jawaban Ibnu Jakfari kuranglah tepat. Karena ia belum bisa mendatangkan sanad lain yang selamat dari celaan para ulama’ pakar hadits.
    Adapun sekedar banyaknya para ulama’ yang menyebutkan hadits itu dalam kitab-kitab mereka tidaklah bisa menunjukkan bahwa hadits itu shahih.
    Kemudian banyak pula kekeliruan yang dilakukan Ibnu jakfari dalam tulisannya tersebut

    sebagai contoh ketika Ibnu Jakfari menyebutkan sederetan ulama’ yang menshahihkan hadits madinatul ilm:

    PARA ULAMA’ YANG MENSHAHIHKAN HADIS “MADINATUL-ILMI”
    1. Al-Hafidz Abu Zakaria Yahya bin Ma’in (W.233 H) sebagaimana disebutkan oleh al-Khatib, Abu al-Hajjaj dan Ibnu Hajar dan lain-lain.

    Yang benar, Ibnu Ma’in termasuk ulama’ yang menganggap palsu hadits madinatul ‘ilm. sebagaimana yang disebutkan Ali Al-Qori’ dalam kitabnya “Murqotul Mafatih Syarhu Misykatul Mashobih 17/443”:
    وقال يحيى بن معين لا أصل له
    “Berkata Yahya bin Ma’in: “(hadits ini) tidak ada asalnya” Jadi tidak hanya sekedar palsu, tapi juga tidak ada asalnya.

    2. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari (W.310 H) sebagaimana dalam kitab Tahdzibul Atsar.

    Sepertinya Ibnu Jakfari kurang teliti dalam masalah ini, padahal dengan jelas Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari menganggap hadits ini memiliki cacat dalam kitabnya Tahdzibul Atsar, kitab yang juga dijadikan referensi oleh Ibnu Jakfari,
    berkata Abu Ja’far Ath-thobari ketika menanggapi seorang perawi (yang bernama Abu Mu’awiyah) yang meriwayatkan hadits madinatul ilm:
    قال أبو جعفر : هذا الشيخ لا أعرفه ، ولا سمعت منه غير هذا الحديث
    “berkata Abu Jakfar: Aku tidak tahu orang ini, dan tidak pula aku pernah mendengar darinya selain hadits ini.” (Tahdzibul Atsar 4/124). dalam istilah ilmu hadits kalimat diatas merupakan pencacatan yang sangat fatal. ulama’ sekaliber Ibnu Jarir saja tidak mengetahuinya, maka bagaimana mungkin haditsnya dianggap hasan apalagi shahih…?!!!
    Jadi perlu ditinjau ulang lagi apa yang disebutkan Ibnu Jakfari dalam Bab Ulama’ yang menshahihkan hadits madinatul ilm….

    Kemudian ketika menyebutkan sederetan Ulama’ yang menghasankan hadits Ilm, juga terjadi kekeliruan yang fatal dari Ibnu Jakfari:

    1. At Turmudzi, sebagai dinyatakan Adbul Haq Ad Dahlawi dalam kitab Al Lama’aatnya.

    mengapa Ibnu Jakfari bersusah payah menukil dari kitab Lama’at Abdul Haq ad-dahlawi sementara imam Tirmidzi/Turmudzi telah menjelaskan pendiriannya tentang hadits ini dalam kitab Sunannya.
    berkata Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini dengan lafadz “ana darul hikmah…”:
    وقال : غريب منكر “Berkata Tirmidzi: “Hadits ini asing lagi MUNKAR” . bagaimana mungkin dikatakan Turmudzi menghasankan hadits ini????

    walhasil, tulisan Ibnu Jakfari perlu di teliti ulang, banyak sekali terjadi kekeliruan.
    Seandainya kami mengala, anggaplah semua ulama’ yang disebutkan Ibnu Jakfari benar-benar menshahihkan hadits madinatul ilm (walaupun kenyataannya tidak), tapi sayang dia tidak menyebutkan Asbabut tashih (sebab penshahihan). sementara ulama’ yang mendha’ifkan, jumlah mereka juga banyak.
    diataranya adalah:
    Yahya bin Ahmad bin Ziyad: “Aku bertanya kepadanya (Ibnu Ma’in) tentang hadits yang diriwayatkan dari jalur Abu Shulth dari Abu Mu’awiyah dari A’masy: haditsnya Ibnu ‘Abbas (hadits diatas)? Maka Ibnu Ma’in mengingkari hadits tersebut“. (dikeluarkan oleh Al-Khathib)

    Ibnu Qudamah di dalam kitabnya “Al-Muntakhib 10/204/1): “Hadits dusta tidak ada asalnya“.

    Ibrahim bin Junaid: Yahya bin Ma’in pernah ditanya tentang Umar bin Ismail bin Mujalid bin Sa’id? Dia menjawab: “Pendusta, dia juga meriwayatkan dari Abu Mu’awiyah dari A’masy: (yaitu hadits) Aku kota ilmu dan Ali pintunya…..”. hadits ini dusta tidak ada asalnya.

    Imam Dzhahabi ketika mengomentari perkataan Imam Hakim (yang dikenal terlalu bermudahan dalam menshahihkan hadits) tentang hadits ini: “Shahih”, berkata (Imam Dzahabi): بل هو موضوع “Tidak, bahkan hadits palsu”.

    Imam Abu Zur’ah: كم خلق افتضحوا فيه “betapa banyak ulama’ yang mendha’ifkannya”

    Yahya bin Ma’in: “لا أصل له ” “Tidak ada asalnya.

    Abu Hatim: “لا أصل له ” “Tidak ada asalnya”

    Yahya bin Sa’id Al-Qoththon: “لا أصل له ” “Tidak ada asalnya”

    Tirmidzi: “إنه منكر” “Hadits Munkar”

    Imam Al-Bukhari: “إنه ليس له وجه صحيح” “Tidak ada sisi (jalur riwayat) yang bisa diandalkan keshahihannya.”

    Ibnul Jauzi: menyebutkan hadits ini dalam kitabnya “Al-Maudhu’at” (Kumpulan hadits-hadits palsu)

    Ibnu Daqiqil Ied: ” لم يثبتوه وقيل إنه باطل” “mereka (ulama ahli hadits) tidak menganggapnya shahih ada juga yang mengatakan Bathil.”
    lihat selengkapnya: “Murqotul Mafatih Syarhu Misykatul Mashobih 17/443”.
    dan para ulama’ yang mendha’ifkan diatas telah menyebutkan “Asbabut Tadh’if” sisi kelemahannya. Maka dalam qa’idah mushtolah disebutkan:
    “Al-Jarhul Mufassar Muqoddam ‘alat Ta’dil” : Kritikan yang disertai rincian lebih didahulukan dari sekedar pujian yang umum”.
    Maka para ulama’ yang mendha’ifkan dan merinci sisi kelemahannya lebih didahulukan dari para ulama’ yang menshahihkan dan tidak menyebutkan sisi keshahihannya.

    semoga bisa menambah wawasan kita…..
    barakallahu fikum

  2. janganlah mencela orang lain bisa jadi yang kamu cela itu lebih baik darimu. dalam surat al humazah (pengumpat) kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (neraka huthamah)…
    saya tidak terima dengan perkataan lebih rendah dari kotoran keledai dajjal.
    hai orang yang tak berilmu lebih baik kamu membahas artikel lain saja yang bermanfaat. bacalah surat al humazah pada al quran terjemahan. saya adalah ahlul bait, yang kamu sendiri pun tidak percaya kepada keturunan nabi muhammad. blog mu ini mencela kaum muslimin lainnya, jangan menganggap hanya dirimu yang benar, bumi yang tadinya luas menjadi sempit karena kesombonganmu. orang yang diselamatkan dari api neraka oleh nabi muhammad adalah orang yang suka bershalawat allahuma sali ala sayidina muhammad wa ala ali sayidina muhammad.

  3. artikel jiplakan

  4. jiplakan dari fais sulaifi s blog ???? ya

    —haulasyiah—
    Alhamdulillah, setiap artikel yang kami sertakan sumber rujukan itu berarti copas, jika tidak maka itu dari kami. Barakallahu fiik
    Seandainya memang menjiplak juga tidak masalah, karena intinya bukan jiplak menjiplak tetapi kandungannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: