HADITS: PERUMPAMAAN AHLUL BAITKU SEPERTI KAPAL NABI NUH…(BAGIAN 1)

 

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti kapal nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan maka dia akan tenggelam (binasa).”

Ahlul bait, demikianlah Allah subhanahu wata’ala menyebutnya didalam Al Qur’an: “Sesunguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait”, juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika di Ghadir Khum beliau memesankan kepada umatnya tentang ahlul baitnya, sebagaimana dalam sabdanya: “Dan ahlul baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah dalam urusan ahlul baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah dalam urusan ahlul baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah dalam urusan ahlul baitku”, maka cukuplah ini sebagai keutamaan yang agung buat keluarga Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, disis lain ada beberapa kelompok yang mengaku-ngaku sebagai keturunan ahlul bait akan tetapi perilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan kebaikan, adapula yang ekstrim didalam mencintai mereka seperti Syi’ah, dan adapula yang ekstrim didalam membenci mereka, mereka semua salah dan menyimpang.

Diantara sikap ekstrim syi’ah adalah gemar membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan ahlul bait, padahal rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengancam perbuatan tersebut: “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya dari api neraka.” Akan tetapi syi’ah tetaplah syi’ah, sungguh benar Ibnu Taimiyah ketika beliau berkata: “Sesungguhnya mereka adalah orang yang paling bodoh dalam persoalan ma’qul (ilmu-ilmu logika akal) dan manqul (periwayatan). (Minhajus Sunnah 7/341).

Sesungguhnya mencintai ahlul bait dengan cinta yang sesuai syari’at merupakan diantara sebab bertambahnya iman. Karena mencintai mereka termasuk ketaatan dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wata’ala.

Kita memuji Allah yang telah memberi taufik kepada Ahlussunnah untuk mencintai ahlul Bait dengan cinta yang bersih dari sikap ghuluw (berlebihan) dan meremehkan.

Hadits-hadits tentang keutamaan mereka bertebaran didalam buku-buku ahlussunnah sehingga kita tidak butuh lagi kepada hadits-hadits lemah atau palsu tentang mereka, yang shahih kita katakan shahih dan yang lemah kita katakan lemah. Tidak seperti syi’ah dengan semangat yang berapi-api membela ahlul bait, hadits yang jelas-jelas lemah atau palsu mereka shahihkan, dengan berlagak ilmiyah mereka menampilkan sederetan nama ulama’ ahlul hadits untuk mendukung hawa nafsu mereka, yang lebih memalukan adalah ketika mereka menyandarkan penshahihan sebuah hadits kepada ulama’ ahlussunnah, ternyata setelah diperiksa dari kitab rujukan tidak seperti yang mereka sebutkan, akan tetapi kita tidak perlu heran dengan sifat mereka ini, karena sudah menjadi hal yang ma’ruf bahwa dusta bagi mereka adalah halal. Wallahul musta’an

Diantara hadits lemah yang mereka anggap shahih adalah hadits yang akan kita bahas pada kesempatan ini, hadits ini diriwayatkan oleh banyak ulama’, akan tetapi sungguh disayang bahwa para periwayat hadits tersebut telah mendhaifkannya. Bagaimana tidak, semua sanad hadits ini terdapat cacat yang sangat parah sehingga tidak dapat lagi menaikkan derajatnya menjadi hasan atau shahih.

 

Dengan menyebut nama Allah saya memulai tulisan ini:

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti kapal nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan maka dia akan tenggelam (binasa).”

Hadits dha’if (lemah)

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Abdullah bin Zubair, Abu Dzar, Abu Sa’id Al Khudri dan Anas bin Malik radhiallahu ta’ala anhum.

 

1. Hadits Ibnu ‘Abbas

Diriwayatkan dari jalur Al Hasan bin Abi Ja’far dari Abu Shahba’ dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Dikeluarkan oleh Al Bazzar (2615 – Kasyful Astaar), Ath Thabarani (Mu’jamul Kaabir 3/160/1) dan Abu Nu’aim (Al Hilyah 4/306)

Didalam sanad hadits ini terdapat perowi yang bermasalah yaitu Al Hasan bin Abi Ja’far.

 

pernyataan ulama’ hadits tentang al hasan bin abi ja’far

Nama lengkapnya adalah: Al Hasan bin Abi Ja’far Al Ja’fari, Abu Sa’id Al ‘Azdi, Al ‘Adawi, Al Bashri (dari Bashrah), nama Abu Ja’far adalah ‘Ajlan ada juga yang mengatakan Amru. (Tahdzibul Kamal karya Imam Al Mizzi).

Beliau sangat rajin beribadah sehingga dijuluki ‘Abid (ahli ibadah), akan tetapi dia bukanlah seorang yang kuat hafalan dan periwayatannya, oleh karena itu banyak ulama’ hadits yang meninggalkan dan tidak meriwayatkan darinya

 

Berkata Abu Nu’aim setelah meriwayatkan hadits ini: “gharib (asing) dari haditsnya Sa’id, kami tidak menulisnya kecuali dari jalan ini (jalan yang kami sebutkan diatas)”.

Berkata Al Bazzar setelah meriwayatkan hadits ini: “Kami tidak mengetahui yang meriwayatkan hadits ini kecuali Al Hasan, dia bukanlah seorang yang kuat (dari sisi periwayatan) akan tetapi dia termasuk ahli ibadah.”

Berkata Al Haitsami didalam kitabnya Al Majma’ 1/168: “Diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Ath Thabarani, didalam sanadnya terdapat Al Hasan bin Abi Ja’far dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya).

Berkata Amr bin ‘Ali: “Dia seorang yang jujur, akan tetapi selalu meriwayatkan hadits-hadits munkar, Yahya bin Sa’id tidak meriwayatkan hadits darinya.” (Tahdzibul Kamal)

Berkata Ishaq bin Manshur: “Dilemahkan oleh Imam Ahmad.” (Tahdzibul Kamal)

Berkata Imam Al Bukhari: “Munkarul hadits.” (Tahdzibul Kamal), munkarul hadits adalah vonis yang diberikan kepadanya bahwa dia selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar, perowi yang seperti ini tidak diterima riwayatnya jika tidak ada jalur lain yang menguatkannya. Istilah ini lebih parah dari ahaditsuhu manakir atau lahu manakir.

Berkata At Tirmidzi: “Dilemahkan Yahya bin Sa’id dan selainnya.” (Tahdzibul Kamal)

Berkata An Nasa’i: “Lemah”, beliau juga berkata: “Matruukul hadits (haditsnya ditinggalkan)” (Tahdzibul Kamal).

Berkata As Saaji: “Munkarul hadits.” (Tahdzibut Tahdzib)

Berkata Ibnul Madini: “Al Hasan sering salah ketika meriwayatkan hadits.”, beliau juga berkata: “Dha’ifun Dha’if (sangat lemah sekali)”. (Tahdzibut Tahdzib)

Berkata Al ‘Ijli: “Lemah haditsnya.” (Tahdzibut Tahdzib)

Berkata Abu Daud: “Lemah, aku tidak meriwayatkan hadits darinya.” (Tahdzibut tahdzib)

Berkata Abu Zur’ah: “Dia tidak kuat dalam hal hadits.” demikian pula yang dikatakan Ad Daraquthni (Tahdzibut tahdzib)

Berkata Ibnu Hibban: “Dia adalah hamba Allah yang baik (dalam hal ibadah), dilemahkan Yahya, (riwayatnya) ditinggalkan Imam Ahmad. Dia termasuk ahli ibadah, akan tetapi selalu salah ketika meriwayatkan hadits dan menghafalnya. Apabila dia menyampaikan hadits selalu salah dan membolak-balik sanad dalam keadaan dia tidak mengetahuinya, sehingga dia tidak lagi dijadikkan hujjah walapun memiliki kelebihan (dalam hal ibadah). (Tahdzibut Tahdzib)

 

Yang lebih membuat riwayat ini lemah adalah Abush Shahba’ Al Kuufi (guru Al Hasan) tidak ada yang menguatkannya kecuali Ibnu Hibban, dan Ibnu Hibban dikenal ulama’ hadits sebagai mutasahil fit ta’dil (bermudah-mudahan memberikan rekomendasi) sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Wallahu a’lam

BERSAMBUNG….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: