SIKAP TENGAH AHLUSSUNNAH THD KEMATIAN HUSEIN

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab

Di dalam kitab beliau “Ar-Radd ‘alal Rafidhah”, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab menukilkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan juga Syaikhul Islam Ibnul Qayyim berkenaan dengan sikap ahlussunnah terhadap wafatnya Al-Husain, cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari Asyura.

Asy-Syaikh Ibnu Taimiyyah Al-Hambali Al-Harrani rahimahullah[1] berkata,

“Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepadaku dan kepada engkau, bahwa kesyahidan yang menimpa Al-Husain radhiyallahu ‘anhu di hari Asyura merupakan karamah dari Allah ‘azza wa jalla yang dengannya Allah muliakan beliau, (merupakan) tambahan keberuntungan dan pengangkatan derajat di sisi Rabbnya, menggabungkan beliau ke derajat ahli baitnya yang suci, serta agar menjadi hina orang yang menzhalimi dan berbuat aniaya kepada beliau.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika ditanya tentang orang yang paling keras cobaannya, beliau menjawab,

Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang paling mirip dengan mereka, kemudian yang di bawahnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika ada kekokohan dalam agamanya, akan ditambah ujiannya dan jika ada kelunakan dalam agamanya, maka akan diringankan. Dan terus saja ujian itu menimpa seorang mukmin sampai dia berjalan di atas muka bumi dalam keadaan tidak punya kesalahan lagi.”[2]

Sehingga seorang mukmin, jika telah tiba hari Asyura dan ingat peristiwa yang menimpa Al-Husain hendaknya dia menyibukkan diri dengan bacaan istirja’ (innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un), tiada lain, sebagaimana Allah Al-Maula ‘azza wa jalla perintahkan ketika terjadi musibah sehingga dia bisa meraih pahala yang dijanjikan dalam firman-Nya,

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 157)

(Hendaknya dia) memperhatikan buah dari ujian tersebut dan pahala yang Allah janjikan bagi orang-orang yang bersabar, di mana Dia berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Dan bersaksi bahwa musibah itu dari Allah yang memberikan ujian, sehingga dengan penglihatan Dzat yang dicintainya akan lekas terlupakan rasa pahit dan susah cobaan tersebut. Allah I berfirman,

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (Ath-Thuur: 48)

Dikatakan kepada seorang penjahat yang keji lagi licik, “Kapan hukuman cambuk dan potong itu terasa ringan bagimu?” Dia menjawab, “Ketika kami dilihat oleh orang yang kami senangi, kami pun menilai musibah itu sebagai kelapangan, keengganan sebagai pemberian dan musibah sebagai karunia.”

Sehingga orang yang berakal akan selalu ingat semisal hal ini ketika keadaan seperti itu, akan menganggap kecil berbagai musibah, kesusahan dan cobaan dunia yang menimpanya, dan akan terhibur dan sabar menghadapi musibah-musibah yang menimpanya itu serta menyibukkan harinya dengan berbagai ketaatan dan amal shalih yang dimampuinya karena adanya motivasi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan puasa di hari Asyura sehingga dengan semua itu dia menggunakan waktunya untuk berbagai macam taqarrub, mudah-mudahan dia ditulis dari golongan orang-orang yang mencintai keluarga dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukannya dia menjadikan hari tersebut untuk berkabung, meratap dan bersedih sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh itu, sebab yang seperti itu bukanlah akhlak dan jalan ahli bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Andaikan yang seperti ini merupakan jalan mereka, tentunya umat Islam akan menjadikan hari wafatnya Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai hari berkabung tiap tahunnya. Ini semua tidak lain hanyalah penghiasan dan penyesatan syaithan.

Asy-Syaikh kemudian berkata setelah menyebutkan hal itu[3],

“Demikianlah, sebagaimana juga dihiaskan kepada kaum yang lain lawan dari perbuatan Rafidhah. Mereka menjadikan hari Asyura ini sebagai ‘ied (hari raya), lantas mereka menampakkan kegembiraan dan suka cita.

Mungkin mereka dari golongan nawashib yang fanatik menancapkan permusuhan terhadap Al-Husain radhiyallahu ‘anhu dan ahli baitnya atau dari kalangan orang-orang bodoh yang hendak menghadapi kerusakan dengan kerusakan, menghadapi keburukan dengan keburukan dan bid’ah. Mereka menampakkan perbuatan berhias seperti mencat rambut, memakai pakaian baru, bercelak, membagi sedekah, memasak berbagai makanan dan biji-bijian yang tidak biasanya mereka lakukan dalam keseharian. Mereka melakukan di hari itu apa yang dilakukan di hari raya dan mereka sangka bahwa hal seperti itu bagian dari As-Sunnah dan kebiasaan yang baik.

Adapun sunnahnya adalah meninggalkan hal itu seluruhnya, sebab tidak datang satu hadits pun yang bisa dijadikan sandaran dalam hal itu dan tidak ada atsar shahih untuk menjadi rujukan.”

Sampai beliau berkata,

“Mereka dengan kebodohannya itu menjadikan hari Asyura sebagai suatu hari yang layaknya pekan raya ‘ied dan kegembiraan. Adapun orang-orang Rafidhah menjadikannya sebagai hari berkabung, mereka tampakkan padanya berbagai kesedihan. Masing-masing dari kedua kelompok ini salah, keluar dari As-Sunnah, mencampakkan dirinya ke dalam perbuatan haram dan dosa.”

Ibnul Qayyim berkata[4],

“Adapun hadits-hadits tentang memakai celak, minyak rambut, dan wewangian di hari Asyura, maka termasuk pemalsuan para pendusta. Lantas mereka dihadapi oleh kelompok yang lain yang menjadikan hari itu sebagai hari berkabung dan bersedih. Kedua kelompok ini sama-sama ahli bid’ah, keluar dari As-Sunnah.

Adapun apa yang disebutkan dari orang-orang Rafidhah yang mengharamkan daging binatang yang halal dimakan di hari Asyura sampai mereka membacakan kitab tentang kematian Al-Husain radhiyallahu ‘anhu, termasuk kebodohan dan bahan tertawaan, dalam membantahnya tidak butuh kepada satu dalil pun. Cukup bagi kami Allah dan Dialah sebaik-baik Dzat yang diserahi urusan.” Selesai ucapan Asy-Syaikh dengan sedikit diringkas.

(Diterjemahkan dari Ar-Radd alal Rafidhah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab oleh Abu Hudzaifah Yahya, muraja’ah oleh Al-Ustadz Abu Isma’il Fuad. Nantikan terjemahan lengkap dari kitab ini insya Allah akan segera diterbitkan oleh Penerbit Al-Ilmu, Jogjakarta di pertengahan bulan Muharram 1429 H)

Artikel terkait:

 


[1] Majmu’ Al-Fatawa jilid 25 hal. 302, 307 dan 308.

[2] Hadits dari Sa’dengan bin Abi Waqqash t yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2403, Ibnu Majah no. 4023 dan Ad-Darimi no. 2681. Hadits ini shahih.

[3] Majmu’ Al-Fatawa jilid 25 no. 309-310.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: