MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG SHAHABAT MU’AWIYAH RADHIALLAHU ‘ANHU (BAG:2)

1. KAJIAN TUNTAS HADITS:
“Ya Allah, jadikanlah dia (Mu’awiyah) seorang yang bisa memberikan petunjuk dan seorang yang diberi petunjuk dan berikanlah hidayah (kepada manusia) melaluinya.”

Diriwayatkan Al-Bukhari dalam “At-Tarikhul Kabir” (5/240), At-Tirmidzi dalam “Al-Jami'” (3843), Ibnu Sa’d dalam “Ath-Thabaqat” (7/417), Ath-Thabarani dalam “Musnad Asy-Syamiyyin” (2198), Ibnu Abi ‘Ashim dalam “Al-Ahad wal Matsani” (3129), Al-Ajuri dalam “Asy-Syari’ah” (1914, 1915), Al-Khatib dalam “Tarikh Baghdad” (1/207) semuanya melalui jalan Abu Mushir dari Sa’id bin Abdul ‘Aziz dari Rabi’ah bin Yazid dari Abdurrahman bin Abi Umairah.

– Ahmad dalam “Al-Musnad” (17929), Abu Nu’aim dalam “Hilyah” (8/358) keduanya melalui jalur Al-Walid bin Muslim dari Sa’id bin Abdul Aziz….. (seterusnya sama dengan diatas).

– Al-Bukhari dalam “At-Tarikhul Kabir” (5/240), Abu Nu’aim dalam “Akhbar Ashbahan” (1/180), Ibnu Abi ‘Ashim dalam “Al-Ahad wal Matsani” (3129) semuanya melalui jalur Marwan bin Muhammad Ath-Thathari dari Sa’id bin Abdul ‘Aziz… (seterusnya sama dengan diatas).
– Ath-Thabarani dalam “Al-Mu’jamul Ausath” (656), “Musnad Asy-Syamiyyin” (606), Al-Khallal dalam “As-Sunnah” (1/451) no.699, semuanya melalui jalur Al-Walid bin Muslim dari Sa’id bin Abdul ‘Aziz dari Yunuus bin Maisarah bin Halbas dari Abdurrahman bin Abi Umairah.

– At-Tirmidzi dalam “Al-Jami'” (3843) dan Abu Nu’aim, keduanya melalui jalur Amr bin Waqid dari Yunuus bin Maisarah dari Abu Idris Al-Khaulani dari Umair bin Sa’d.
Berkata Abu ‘Isa (Tirmidzi): “hadits ini gharib dan Amr bin Waqid dilemahkan”.

JAWABAN ATAS PENYAKIT-PENYAKIT HADITS

Penyakit pertama:

Abdurrahman bin Abi Umairah tidak sah hadits-haditsnya dan dia bukan shahabat, keadaannya sama dengan Majhul. Berkata Ibnu Abdil Barr: “Haditsny mudhtarrib (goncang), bukan shahabat dan dia berasal dari Syam.”.

Jawab:
Pendapat tersebut tidaklah benar, ditinjau dari dua sisi:
PERTAMA: Di sebagian riwayat hadits ini disebutkan dengan jelas bahwa Abdurrahman bin Abi Umairah mendengar langsung dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang shahabat. Diantaranya adalah riwayat:
– Al-Bukhari dalam “At-Tarikhul Kabir” (5/240), berkata Al-Bukhari: “tergolong Asy-Syamiyyin (perowi yang berasal dari negeri Syam). Berkata Abu Mushir, berkata Abdullah bin Marwan dari Sa’id dari Rabi’ah dia mendengar langsung Abdurrahman, dia mendengar langsung nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

– Al-Ajuri dalam “Asy-Syari’ah” (1915) dari riwayat Abu Mushir dari Sa’id bin Abdul Aziz… (sama dengan diatas).

– Ibnu Asakir dalam “Tarikhu Dimasyq” (59/83) dari riwayat Muhammad bin Sulaiman Al-Harrani dari Sa’id bin Abdul Aziz … (sama dengan diatas)

Maka tidak ada dalih untuk mengingkari bahwa dia adalah seorang shahabat setelah jelas bahwa dia pernah mendengar langsung dari nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam “Al-Ishabah” (4/342):”Jika memang hadits ini, yang disebutkan Ibnu Abdil Barr tampak satu penyakit, yaitu inqitha’ (sanadnya terputus), maka bagaimana dengan hadits-hadits yang lainnya yang dengan jelas bahwa dia (Abdurrahman bin Abi ‘Umairah) mendengar langsung dari nabi shalallahu ‘alaihi wasallam??! Adakah yang lebih shahih yang menunjukkan suhbahnya lebih dari ini (mendengarnya langsung dari nabi).”
Makna suhbah adalah: tergolong shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

KEDUA: Para ulama berpendapat bahwa Abdurrahman bin Abi ‘Umairah adalah shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak diketahui yang mengingkarinya kecuali Ibnu ‘Abdil Barr.
Diantara para ulama yang menetapkan suhbahnya adalah:
– Imam Ahmad rahimahullah. Karena beliau meriwayatkan hadits ini dalam kitab Musnadnya (17929) dari jalur Abdurrahman bin Abi ‘Umairah. Ini menunjukkan bahwa beliau memasukkan Abdurrahman bin Abi ‘Umairah kedalam jajaran shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, jika tidak mana mungkin beliau meriwayatkan hadits ini dalam kitab MUSNADNYA, karena Musnad adalah kumpulan hadits-hadits marfu’ muttashil (marfu’ dan bersambung) sampai ke Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bukan hadits Mursal atau yang lainnya.

– Al-Bukhari dalam “At-tarikhul Kabir” (5/240) beliau berkata tentangnya: “tergolong Asy-Syamiyyin (perowi yang berasal dari negeri Syam). Berkata Abu Mushir, berkata Abdullah bin Marwan dari Sa’id dari Rabi’ah dia mendengar langsung Abdurrahman, dia mendengar langsung nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

– Sa’id bin Abdul ‘Aziz At-Tanukhi salah seorang perowi hadits ini, sebagaimana dalam “Jami’ At-Tirmidzi” (3842), Ibnu Asakir “Tarikh Dimasyq” (35/230) dari jalur Sa’id bin Abdul Aziz dari Rabi’ah bin Yazid dari Abdurrahman bin Abi ‘Umairah dan dia adalah shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

– Ibnu Sa’d dalam “At-Tabaqat” (7/417), dia berkata tentangnya: “Al-Muzani dan dia termasuk shahabat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang tinggal di Syam.”.

– Al-Mizzi dalam “Tahdzibul Kamal” (17/321) beliau berkata tentangnya: “Abdurrahman bin Abi ‘Umairah Al-Muzani, ada yang mengatakan Al-Azdi Al-Barqi ini adalah kekeliruan karena dia adalah Muzani bukan Azdi, dia saudara Muhammad bin Abi ‘Umairah. Dia seorang shahabat tinggal di Himsh dan pernah meriwayatkan langsung dari nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

– Ibnu Asakir dalam “Tarikh Dimasyq” (35/229): “Abdurrahman bin Abi ‘Umairah Al-Muzani ada mengatakan Al-Azdi saudara Muhammad bin Abi ‘Umairah dan dia adalah seorang shahabat.

– Ibnu Hajar dalam “Al-Ishabah” (4/342): “dan hadits-hadits ini walaupun tidak terlepas sanadnya dari pembicaraan akan tetapi dengan semua jalur jalurnya menjadi sah, dan Abdurrahman adalah seorang shahabat.

– Abu Hatim Ar-Razi, Ibnu Sakan, Ibnul Barqi, Ibnu Hibban, Abdush Shamad bin Sa’id dan Abul Hasan bin Sami’ semuanya memasukkannya kedalam jajaran para shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana yang disebutkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam “Al-Ishabah” (4/342): “berkata Abu Hatim: dia seorang shahabat, dan disebutkan pula oleh Al-Bukhari, dan Ibnu Sa’d, Ibnul Barqi, Ibnu Hibban, Abdush Shamad bin Sa’id, Abul Hasan bin Sami’ mereka semua memasukkannya kedalam jajaran para shahabat.”
– Dan selain mereka masih banyak lagi.

Inilah jawaban pertama dari syubuhat kaum syi’ah dan yang sepaham dengan mereka, yang selalu gerah jika ada hadits yang menyebutkan keutamaan shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Penyakit kedua:
Bersambung, Insya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: