Hukum mencela Mu’awiyah (1)

Bismillah, Alhamdulillah, pada edisi kali ini kita akan melanjutkan sedikit pembahasan yang telah lalu yang berkaitan dengan shahabat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam yang mulia, penulis wahyu dan paman kaum mukminin, Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Adapun dalam kesempatan yang barakah ini –insyaAllah- kita akan paparkan tanggapan para ulama’ salaf terhadap orang-orang yang mencela para shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam terkhusus Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Sebelumnya kami mengingatkan para pembaca sekalian akan perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah “Bahwa tidak shahih satu hadits pun yang mencela shahabat Mu’awiyah”. Pembahasan tentang masalah ini juga telah kita paparkan pada beberapa edisi yang lalu. Dari perkataan yang mulia ini kita bisa mengutip beberapa faidah, diantaranya adalah: jika kita mendapati hadits-hadits yang menyebutkan celaan terhadap Mu’awiyah kita sudah tahu bahwa hadits itu perlu dibahas ulang lagi. Terlebih jika ternyata celaan dan hinaan itu hanya keluar dari mulut-mulut yang tidak terkontrol, bukan hanya perlu ditinjau ulang bahkan wajib bagi kita untuk menolaknya, karena mereka pada hakekatnya hanya ingin meruntuhkan pondasi agama islam yang telah mereka (para shahabat) tegakkan. Wallahul muwaffiq.

Bi’aunillahi abda’:

1. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

Al-Kholal meriwayatkan dalam “As-Sunnah” (2/447) nomor 691: “dari Imam Ahmad, bahwa beliau pernah ditanya: “Apakah boleh menulis/mengambil hadits dari seorang yang mengatakan bahwa Mu’awiyah meninggal diatas selain islam atau kafir?” beliau menjawab: “Tidak boleh” kemudian beliau melanjutkan: “Tidak boleh mengkafirkan shahabat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam”.

Al-Kholal juga meriwayatkan dalam “As-Sunnah” (2/434) no.659: dengan sanadnya sampai ke Abul Harits, dia mengatakan: “kami bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad), bagaimana pendapatmu terhadap orang yang mengatakan: Aku tidak mengatakan bahwa Mu’awiyah penulis wahyu, tidak pula Kholul Mukminin (pamannya kaum mukminin), karena dia telah mengangkat pedang secara ghasb? Abu Abdillah menjawab: “Ini ucapan yang sangat jelek dan kotor, jauhilah dan jangan bermajlis dengan mereka, (harus) kita jelaskan kejelekan mereka kepada manusia”. Sanadnya shahih.

Juga dalam kitab “As-Sunnah” karya Al-Kholal (2/448) no.693 dengan sanadnya sampai ke Abu Bakr bin Sindi: “Aku pernah mendengar Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) ketika ada seseorang yang bertanya: “Wahai Abu Abdillah, aku mempunyai paman (dari pihak ibu) yang menjelekkan Mu’awiyah, terkadang aku makan bersamanya” maka Abu Abdillah segera menanggapi: “Jangan makan bersamanya”. Sanadnya shahih

Masih dalam kitab “As Sunnah” (2/432) no.654, berkata Abdul Malik Al-Maimuni: Aku mendengar (Ahmad) bin Hanbal berkata: “Ada apa dengan mereka (yang sangat membenci) Mu’awiyah? Kita memohon kepada Allah Afiyah.

(2/447) no.690, dan Ibnu Asakir dalam “Tarikh Dimasyq” (59/210) melalui jalan Al-Fadhl bin Ziyad, dia berkata: “Aku mendengar Abu ‘Abdillah ditanya tentang seorang yang mencela Mu’awiyah dan Amr bin Ash, apakah boleh dikatakan dia Rafidhah? Beliau menjawab: “Tidaklah yang mencela keduanya melainkan memiliki kebiasaan yang sangat buruk. Tidaklah seorang yang mencela salah seorang shahabat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melainkan dia memiliki kebiasaan buruk. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada jamanku”

Dalam Masail Ibnu Hani An Naisaburi (1/60), dia mengatakan: “Aku mendengar Abu ‘Abdillah ditanya tentang orang yang mencela Mu’awiyah, apakah boleh shalat dibelakangnya (menjadi makmumnya)? Beliau menjawab: “Tidak boleh, tidak boleh shalat dibelakangnya, tidak ada kemuliaan”.

Inilah akidah Ahlussunnah yang diwarisi dari generasi ke generasi, lisan mereka selamat dari mencela para shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, siapapun mereka. Semua ini dalam rangka menunaikan wasiat baginda kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang sering kita ulang-ulang:
“Janganlah kalian mencela para shahabatku”

Akan tetapi syi’ah yang mengaku sebagai pengikut dan pembela ahlulbait tidak pernah mengindahkan wasiat tersebut, hal itu disebabkan kedengkian mereka terhadap para shahabat yang namanya tetap harum di tengah-tengah kaum muslimin.

Bersambung, insya Allah

11 Tanggapan

  1. Pertanyaan:
    (1) Sahabat yang mas maksudkan ini siapa saja. Apakah ada sahabat-sahabat yang munafik? Apakah sahabat yang munafik termasuk di dalamnya? Kalau yang munafik tidak termasuk, bagaimana kita mengetahui mana yang munafik mana yang bukan?

    Semua shahabat Rasul, terutama yang ikut perang dari kedua belah pasukan. Tidak ada shahabat rasul yang munafik, kalau munafik berarti dia bukan shahabat, karena shahabat hanya diperuntukkan bagi mereka-mereka yang beriman.

    (2) Mas tidak memberikan gambaran atau riwayat mana sehingga ada segolongan orang yang mencaci Muawiyah?

    afwan ana belum paham maksud anda.

  2. Berikut ingin menambahkan manusia2 Laknatullah:
    – Aisyah
    – Umar Sahhak ibn Khattab ahlul bid’ah
    – Abu Bakar
    – Uthman
    – Muawiyyah
    – Yazid
    – Abdul Wahab dan pengikutnya.

    —haulasyiah—
    lihatlah para pembaca, ungkapan seorang yang tidak memiliki hujjah. Lihat pula siapa yang dia cela: Ummul mukminin, dua khalifah rasulullah, penulis wahyu dan ulama’ kaum muslimin. Ini menunjukkan kebencian yang ditanamankan oleh Abdullah bin Saba’ kepada anak keturunannya.
    Tidak ada yang bisa kami ucapkan melainkan jawaban Imam Hasan Al-Bashri:
    Ada yang berkata kepada Hasan (Al-Bashri): Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya disini ada satu golongan yang mencela dan melaknat Mu’awiyah dan Abdullah bin Zubair”. Beliau menjawab: “Bagi mereka yang melaknat akan mendapatkan laknat Allah”. (Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir, 59/206)

  3. mas mau tanya, kata orang syiah aisyah pernah perang dengan ali diperang jamal, sapa yang benar tuh mas? trus kata orang syiah juga muawiyah perang dengan ali di perang siffin, sapa yang benar tuh mas? gak mungkin dua-duanya benar kan? kalo dua-duanya benar kenapa ada perang jamal dan siffin? tak tunggu lho mas, aku bingung …

    memang benar, A’isyah pernah berperang dengan Ali yang dikenal dengan perang Jamal akan tetapi bukan disebabkan permusuhan dan kebencian antara kedua belah pihak
    Demikian pula Mu’awiyyah pernah berperang melawan Ali akan tetapi bukan disebabkan permusuhan dan kebencian antara kedua belah pihak.
    Peperangan tersebut disebabkan beberapa perkara ijtihadiyyah, yang benar diantara mereka akan mendapatkan dua pahala dan yang salah akan mendapatkan satu pahala.
    Yang sungguh disayangkan kejadian ini justru dijadikan alasan bagi orang syi’ah untuk mencela Mu’awiyyah (Penulis wahyu Rasul) dan A’isyah (istri Rasul). Bukankah Allah telah ridha terhadap mereka semua? mengapa kita mencela, sementara Rabbul ‘alamin telah memuji mereka dengan pujian yang tidak pernah diraih orang-orang sebelum dan setelah mereka.
    sungguh beruntung suatu kaum yang selalu menjaga lisannya

  4. IJtihad yang benar dapat pahala
    yang salah dapat pahala apa ngga salah tuh ?

    ijtihad yang bener dapat dua pahala dan yang salah dapat satu. Demikianlah yang kami dapatkan dari keterangan nabi kami.

    jadi kalau minum khamar karena ijtihad ngga apa apa ya mas ?

    kalau yang minum dah tahu khamar haram ya dosa, tapi kalau belum tahu ya tidak mengapa.

  5. wah enak dong jadi pengikut salafi

    —haulasyiah—
    benar… berjalan diatas agama yang benar tentu enak
    “Sesungguhnya Allah menginginkan kemudahan untuk kalian….” (QS. Al-baqarah:185)

  6. mo tanya neh,

    kenapa anda begitu membenci syiah dan bencinya ini mengalahkan benci pada kaum kafir.

    bisa di jelaskan pak ?

    —haulasyiah—
    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض في الله “(diantara) Tali keimanan yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”
    Kecintaan kita kepada seseorang bukan disebabkan kepribadiannya… akan tetapi karena ia berpegang dengan dien Allah yang shahih.
    dan kebencian kita kepada seseorang bukan disebabkan kepribadiannya…. akan tetapi karena ia melanggar aturan Allah dan telah keluar dari ajaran yang benar.
    berkata Ibnu ‘Abbas: “Kebanyakan kecintaan seseorang sekarang karena perkara dunia, yang demikian itu tidak akan memberikan manfaat terhadap pemiliknya sedikitpun.”

  7. darimana anda mengetahui bahwa syiah itu melanggar.bukankah mereka itu juga syahadat,sholat,zakat dan haji dan Nabinya juga satu serta Tuhannya jg satu.

    ya dari kenyataan yang ada, sebagiannya juga sudah kami kupas dalam blog ini….
    Apakah semua orang yang bersyahadat, sholat, zakat dan haji dst bebas dari pelanggaran??

    terus keluar dari jalan yang benar itu yg mana mas?

    Tentu keluar dari jalan yang lurus, jalan yang sudah digariskan oleh Syari’at islam.

    klo cuma mas ngasih artikel-artikel dan di ambil dari buku syiah, tapi apa mas sudah tanya ke ulamanya bahwa yang mas kutip itu apakah shohih atau dhoif. kan ga semua ulama syiah setuju dengan apa yg di tulis di buku-buku syiah.

    Seandainya ulama’2 Syi’ah itu tidak setuju dengan tulisan pendahulu mereka, tentu mereka akan meralat semua yang ada. Ketika tidak ditemui Ulama’ Syi’ah yang meralat menunjukkan bahwa mereka setuju.

    sama aja lah mas kayak shohih bukhori, ketika ada yang mempertanyakan Hadits dari bukhori yang di shahihkan oleh ulama atau orang2 pintar lagi jenius pada zaman terdahulu trus di sanggah oleh salah satu paham tertentu ” bahwa itu Hadits sebenarnya Dhoif lah ga kuatlah sanadnya.( seperti Hadits Madinatul ilmu ).

    Shahih Bukhari adalah kitab yang disepakati oleh para ulama’ ahlussunnah akan keshahihannya. Sempat juga sih ada yang membicarakan beberapa haditsnya akan tetapi setelah di teliti ternyata kebenaran bersama Imam Bukhari.

    apa mas sudah pernah diskusi sama ulama yang paham nya anda hujat,caci dan di beri label sesat bahkan anda katakan bukan islam ini.

    Untuk menilai suatu kelompok itu sesat tidak harus kan kita diskusi langsung! bukankah karya2 mereka sudah cukup mengambarkan keyakinan yang ada pada mereka?!

    yang paling benar itu siapa yang tahu sih mas anda kah atau Allah.

    Tentu Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. oleh karena itu, setelah kita menimbang semua yang ada pada Syi’ah dengan timbangan Al-Qur’an dan Hadits nabi ternyata dapat disimpulkan bahwa Syi’ah sangat membahayakan bagi kaum muslimin

    wassalam

    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  8. ijtihad yang bener dapat dua pahala dan yang salah dapat satu. Demikianlah yang kami dapatkan dari keterangan nabi kami.

    “Kalau begitu,,Seandainya Syiah benar pahala 2 dan jika Ahlusunnah salah pahalanya 1..begitu juga sebaliknya…”

    berarti anda perlu belajar lagi tentang perkara ijtihad. apa saja yang boleh ijtihad dan apa yang tidak boleh.

    Ya sudah nggak perlu sesama islam saling menyesatkan..Masih banyak pekerjaan umat untuk diselesaikan (Kemiskinan, kebodohan dsb). Belum lagi dari kaum kafir, yang senang dengan pertengkaran umat yang berkesinambungan..
    Sayang jika energi yang besar habis digunakan hanya untuk saling menyesatkan..

    anda betul sekali…. musuh kita masih sangat banyak, makanya kita bagi2 tugas. anda selesaikan kemiskinan dan kebodohan kalau bisa… nah saya tuntaskan syi’ah dan yang berjalan dengan mereka.
    gimana ??? barakallahu fiik

  9. itu sih melalui timbangan anda mas.

    klo sy bilang bahwa paham anda sesat juga gimana mas.

    sy punya dalil-dalil serta bukti-buktinya kok.

    gimana mas.

    —haulasyiah—
    Apa yang ada di blog kami merupakan kesimpulan dari apa yang kami dapat dari Al-Qur’an dan Sunnah serta kitab-kitab referesi Syi’ah.
    kalau anda yang mencap kami sesat itu sih terserah anda…. yang penting jangan Islam yang mencap kami sesat….
    barakallahu fik

  10. Muawiyah perang dengan Ali hanya karena ijtihad? gak salah nih mas? coba lihat lagi konteks hadist tentang ijtihad mas.
    Dalam hadis itu kan konteksnya seorang sahabat yang akan menjadi gubernur ditanya oleh Rasulullah tentang pengambilan keputusan. Jadi, sahabat tersebut punya wewang mengambil keputusan karena dia adalah seorang pemimpin di wilayah yang ia pimpin. Ia boleh berijtihad.
    Nah, dalam konteks Muawiyah, pemimpin pada saat itu adalah Ali. Kok bisa, seorang yang bukan pemimpin memaksakan pendapatnya dengan cara berperang dan berdalih berijtihad?
    Coba lihat sikap para sahabat, termasuk Usman dan Ali, ketika berbeda pendapat soal hukum pada masa Khalifah Umar. Ketika Umar (sebagai khalifah) sudah memutuskan, semua akan sami’na wa ato’na.
    Sekali lagi, ini bukan dalam rangkan menghujat Muawiyah, karena mas sudah kasih dalil-daili tentang menghujat sahabat, tapi ini tentang fakta sejarah.

    —haulasyiah—
    monggo baca secara yang betul…

  11. alah poke syiah sesat dan menyesatkan sama aza dgn Si MGA dari India cuman bedanya MGA langsung ngaku nabi kalo Syiah menempatkan Sayidina Ali,Ra diatas segala-galanya sampe2 beliau bisa menentukan seseorang masuk surga or neraka, cappek dech, o,ya terus istiqomah,ok?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: