AKIBAT MELANGGAR KETENTUAN ALLAH

Allah berfirman: “Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Para pembaca rahimakumullah
Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat yang maha mengetahui segala sesuatu baik yang telah, akan atau sedang terjadi. Demikian pula Allah subhanahu wata’ala Maha hikmah didalam menentukan setiap perkara. Tidaklah Allah menentukan suatu hukum pasti itu bersumber dari pengetahuan-Nya yang luas dan terkandung didalamnya hikmah yang banyak baik yang kita ketahui maupun tidak.
Setiap perintah Allah pasti mengandung sekian kebaikan yang akan diraih bagi pelakunya, demikian pula setiap larangan Allah pasti mengandung sekian kejelakan yang akan dituai oleh pelakunya.
Lalu, bagaimanakah jadinya jika larangan Allah dilanggar? Tentu, tidak lain kejelekanlah yang akan dia dapatkan, kehinaanlah yang akan dia raih dan kesengsaraanlah yang akan menimpanya.
Suatu contoh, nikah mut’ah ’ala syi’ah –walaupun yang cocok adalah Zina-. Dengan jelas Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya. Dalilnya pun demikian gambalang seperti matahari di siang bolong, akan tetapi karena mereka mendahulukan akal dan syahwat hadits-hadits tentang pengharamannya pun dikesampingkan.
Allah yang Maha mengetahui lagi Maha bijaksana telah mengharamkan mut’ah. Mengapa? Tentunya, terkandung di dalamnya sekian kebaikan untuk hamba-hamba-Nya. Lalu apa jadinya jika ada yang menghalalkannya? Tidak lain dan tidak bukan yang akan dia raih adalah kesengsaraan dan kehinaan di dunia dan akhirat.
Berikut bersaksian saudara kita Abu Shofiyah Rashid Bin Dasmin –beliau sekarang tinggal di negeri Kuwait:
Bismillahirahmanirahim
Tulisan berikut ini adalah beberapa informasi tentang syi’ah yang penulis ketahui (bukan isi dari buku di atas):
1. Awal tahunya tentang agama syi’ah ini adalah setelah penulis mengikuti pengajian ahli sunnah di Jogjakarta pada sekitar tahun 1993 akhir. Waktu itu hanya tergambar tentang ajarannya yang sangat jelek dan bahayanya terhadap kaum muslimin karena memang penulis belum melihat dengan langsung adanya orang-orang syi’ah di sekitar tempat penulis saat itu (Jogja).
2. Pengajian berikutnya penulis mendapat informasi bahwa di Jogja telah ada pengikut syi’ah dari kalangan mahasiswi yang telah menjadi korbannya dimana berita ini terbongkar setelah mahasiswi tersebut (yang memakai cadar) memeriksakan diri ke RSUP Dr. Sardjito Jogja di bagian Poliklinik Penyakit Kulit dan Kelamin. Dan yang mencengangkan dari sini adalah bahwa mahasisiwi tersebut positif terkena penyakit Siphilis atau ada yang mengatakan Gonorrhea (GO), lha kok bisa??? Ajib, seorang yang memakai cadar terkena penyakit seperti itu? Pasti ada sebabnya!
3. Jawabannya, ternyata mahasiswi tersebut adalah salah satu korban nikah mut’ah (kontrak) dengan dosennya sendiri yang merupakan da’i atau pembesar syi’ah di Jogja.
4. Dan kasus ini terbongkar karena mahasiswi tersebut melaporkan sang dosen ke Kepolisian karena ternyata dia tidak mau bertanggung jawab terhadap kehamilan si mahasiswi tadi.

Musibah di atas musibah!!!
Ternyata daya tarik dan ‘iklan’ ajaran syi’ah kepada orang awam terutama kaum muda diantaranya adalah dengan mengenalkan ajaran syiah yang busuk ini sehingga banyak yang tertipu. Padahal menurut kesepakatan Ulama Ahlu Sunnah, nikah mut’ah memang pernah diperbolehkan pada zaman Nabi Muhammad shalallohu ‘alaihi wasalam beberapa saat yang kemudian dihapus/dimansukh untuk selama-lamanya pada zaman beliau juga.
Di sinilah, diantara salah satu bukti bahwa agama syi’ah senantiasa ingin merusak Islam dengan menyelisishi petunjuk Nabi. Memang, Syi’ah bukanlah dari Islam walaupun berkedok Islam. Maka hati-hatilah!
(Abu Shofiyah)

Sumber: Abu Shofiyah

3 Tanggapan

  1. “Dari Muhammad bin ‘Ali, bahwasanya pernah suatu ketika
    diceritakan kepada ‘Ali bahwa Ibnu ‘Abbas memperbolehkan kawin Mut’ah,
    maka beliau berkata : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
    Sallam melarang kawin mut’ah dan makan daging keledai waktu khaibar.”

    Dikeluarkan oleh Bukhori dalam Shahih-nya (VI/hal. 2003) dan Muslim dalam Shahih-nya (II/hal. 1028) dari jalan az-Zuhri, dari Hasan dan Abdullah keduanya putera Muhammad bin ‘Ali dari ayahnya.

  2. Sebagai tambahan, mudah – mudahan artikel ini bisa menjelaskan kepada para pengikut Syiah yang hanya kenalan saja, tapi gak tahu hakikat Syiah sebenarnya.

    http://kilasanku.wordpress.com/2008/11/04/ustadz-syiah-doyan-mutah/

  3. Al-Baihaqi di dalam al-Sunan, V, hlm. 206, meriwayatkan kata-kata Umar bin Khattab,”Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah SAW tetapi aku melarang kedua-duanya dan aku akan mengenakan hukuman ke atasnya, yaitu mut’ah perempuan dan mut’ah haji.
    Silakan buka kitab al Baihaqi…

    Kata-kata Ali AS,”Sekiranya Umar tidak melarang nikah mut’ah niscaya tidak seorang pun berzina melainkan orang yang celaka.”[al-Tabari, Tafsir, V, hlm. 9; Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, III, hlm.200; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm.140]

    Kata-kata Imam Ali ini menolak dakwaan orang yang mengatakan bahwa Ali telah melarang nikah mut’ah karena beliau tidak memansuhkan ayat di dalam Surah al-Nisa’ (4):24.

    Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata:”Kami telah melakukan nikah mut’ah dengan segenggam kurma dan gandum selama beberapa hari pada masa Rasulullah dan Abu Bakar sehingga Umar melarang dan mengharamkannya dalam kasus Umru bin Harith. [Muslim, Sahih, I, hlm. 395; Ibn Hajar, Fatih al-Bari, IX, hlm.41; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VIII, hlm.294]

    —haulasyiah—
    Hadiah untuk sampean klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: