Mencintai Para Sahabat dan Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat adalah orang-orang terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi mereka adalah generasi terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia, hal ini selaras dengan ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku” (yakni para sahabat, pent). Adalah merupakan aqidah ahlissunnah wal jama’ah mencintai para sahabat dan ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa harus bersikap ekstrem dalam mencintainya, tetapi tidak juga bersikap merendahkan atau bahkan mencemoohkannya. Pendek kata, aqidah ahlussunnah wal jama’ah dalam hal para sahabat Nabi dan ahlul bait pertengahan antara ifrath dan tafrith, serta ghuluw dan jafaa’, antara rafidhoh -semoga Allah menjelekkan mereka-, khowarij dan nawasib. Kaum rafidhoh mengatakan, “Tidak ada loyalitas terhadap ahlul bait, kecuali dengan berlepas diri dari para sahabat, barangsiapa yang tidak berlepas diri dari para sahabat, maka ia tidak mencintai ahlul bait.” Lain lagi dengan khowarij, mereka mengkafirkan Ali dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma beserta para sahabat lainnya yang bersamanya, menghalalkan darah dan harta-hartanya. Adapun nasibi / nawasib, mereka adalah orang-orang yang menancapkan api permusuhan terhadap ahlul bait, mencelanya dan berlepas diri darinya.

Ahlussunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang Allah telah berikan hidayah padanya untuk mengetahui keutamaan-keutamaan para sahabat sehingga mereka mencintainya (para sahabat) karena kesetiaannya terhadap Rosulullah, kepeloporannya dalam hal itu, perjuangannya membela Islam, dan berjihad bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mereka menjaga diri dari membicarakan kesalahan-kesalahannya para sahabat karena Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Jika disebutkan para sahabatku maka tahanlah” (yakni dari membicarakan kesalahannya, pent) (HR Abu Nu’aim dan Thobrani dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu). Ahlussunnah meyakini bahwa orang yang terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakr Ash Shiddiq kemudian Umar bin Khattab lalu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhum. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Kami sedang berbincang -dan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di hadapan kami- bahwa sebaik-baik orang setelah Rosulullah adalah Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Nabipun mendengar hal itu dan beliau tidak mengingkarinya.” (HR Bukhori). Juga telah datang riwayat secara mutawatir bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu pernah berkata saat khutbah, “Umat yang paling afdhol setelah Nabi adalah Abu Bakr lalu Umar…” Setelah mereka yang terbaik adalah lima orang ahli syuro yakni Ali bin Abi Thalib, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Saad, dan Thalhah. Kemudian setelah mereka adalah ahli Badr dari Muhajirin dan Ahli Badr dari Anshor dari para sahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya. Semoga Allah meridhoi semuanya.
Para pembaca, ahlussunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang mencintai muslim dan muslimah dari keturunan Abdul Muthalib, begitu pula mencintai seluruh istri-istri Rosulullah, memuji semuanya, dan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya yang paling tepat dengan adil dan inshaf, tidak dengan hawa nafsu dan kedengkian, mereka mengetahui keutamaan orang-orang yang Allah kumpulkan padanya kemuliaan iman dan kemuliaan nasab, siapa saja yang tergolong ahlul bait dari para sahabat Nabi, maka mereka mencintainya karena keimanannya, ketakwaannya, dan kesetiannya serta kekeluargaannya dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Mereka yakni ahlussunnah wal jama’ah mencintai ahlul bait Rosulullah dan berloyalitas padanya, mereka menjaga betul wasiat Rosulullah saat berkata, ‘Aku ingatkan kalian pada ahlul baitku.’ Dan saat berucap, ‘Demi yang jiwaku ada di genggamanNya, kalian tidak beriman hingga kalian mencintai Allah dan keluargaku.’ Mereka (ahlussunnah) mencintai istri-istri Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ummahatul mu`minin, serta mengimani bahwa mereka adalah istri-istri beliau di akhirat…”

Keutamaan Ahlul Bait dalam Al Qur`an dan As Sunnah
Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhoan) Allah dan RosulNya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan RosulNya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rizki yang mulia. Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkan perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RosulNya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS Al Ahzab: 28-33). Maka firman Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya” ini menunjukkan keutamaan keluarga Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang diharamkan atasnya shodaqoh (menerimanya, red), yang terkhusus dari mereka adalah istri-istrinya dan keturunannya. Dalam Shohih Muslim no 2276, dari Watsilah bin al Asqo’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunannya Ismail dan memilih Quraisy dari Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilih aku dari Bani Hasyim.” Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Al Hasan bin Ali datang lalu Nabi menyuruhnya masuk, kemudian datang Husein dan masuk bersamanya, lalu datang Fatimah dan Ali dan menyuruhnya masuk, kemudian beliau membaca (ayat), ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya.'” (HR Muslim no 2424).

Keutamaan Ahlul Bait di Mata Para Sahabat
Telah diketahui secara umum bahwa para khulafa ar rosyidin yang empat adalah mertua dan menantu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma memiliki kemuliaan yang lebih dimana Rosulullah menikahi putri-putrinya: Aisyah dan Hafshoh, sedang Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhuma juga mempunyai kemuliaan yang lebih dimana mereka menikahi putri-putri Rosulullah. Utsman menikah dengan Ruqoyyah dan setelah ia (Ruqoyyah) meninggal dunia kemudian menikah dengan saudaranya yakni Ummu Kultsum, sehingga Utsman digelari “Dzunnuraini”. Adapun Ali menikah dengan Fatimah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, “Demi yang jiwaku ada di genggamanNya, aku lebih menyukai untuk menyambung (silaturrahmi) dengan keluarga Rosulullah daripada keluargaku sendiri.” (HR Bukhori no 3712). Dalam riwayat lain no 3713, beliau berkata, “Jagalah Rosulullah dan ahli baitnya” bahkan pernah pada suatu hari setelah beliau menunaikan shalat ashar, ia melihat Hasan bermain dengan anak-anak seusianya lalu beliaupun memanggulnya di atas pundaknya. (HR Bukhori no: 3542).

Umar ibnul Khattab ketika ditimpa kemarau ia mendatangi Abbas bin Abdul Muthallib bertawassul -meminta do’a darinya- (HR Bukhori no: 1010 dan 3710). Bertawassulnya beliau kepada Abbas adalah karena hubungan keluarganya dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliaupun berkata dalam tawassulnya, “Sesungguhnya kami bertawassul kepadaMu dengan paman Nabi kami.” Dalam kesempatan lain ia pernah berkata kepada Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Demi Allah keislamanmu pada hari engkau masuk Islam lebih aku cintai / sukai daripada Islamnya Khattab jika dia masuk Islam, karena keislamanmu lebih disukai oleh Rosulullah daripada keislaman Khattab.” (Tafsir Al Qur`anul Adzim: 4/116). Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang paling mirip perangainya dengan Rosulullah, baik saat berdirinya maupun saat duduknya selain dari Fatimah binti Rosulullah.” (HR Abu Daud no 5217, Tirmidzi no 3872).

Para pembaca, sangatlah banyak riwayat-riwayat dan atsar para sahabat, para tabi’in, serta tabi’it tabi’in dan ahlil ilmi yang menunjukkan akan kecintaan, penghormatan, dan pengagungan mereka terhadap ahlul bait Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian kaum muslimin ahlussunnah wal jama’ah semua bersepakat untuk mencintai dan mengagungkan para sahabat dan ahlul bait Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berlepas diri dari sikap ekstremnya dan kedholimannya kaum Rafidhoh, Bathiniyah, Ismailiyah, dan Itsna Atsariyah dari kalangan Syi’ah serta Khowarij terhadap para sahabat dan ahlul baitnya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wal ‘ilmu ‘indallah.
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.

Sahabat Bukan Munafiq
Komentar: Salam alayk, dalam edisi ke-44, Manhaj Salaf manhaj yang benar dalam memahami “Islam”, sohabat itu relatif, sedangkan Islam itu mutlaq benarnya. Lihat 9:101 dan Buchori kitab Al Haud, jelas sohabat itu ada yang munafiq (penduduk madinah=muhajirin+anshor). Kalau sesuatu yang mutlaq dibawa oleh yang relatif jadi relatif. Manhaj sohabat yang mana? (081320784***)
Jawaban: Alayk salam, pertama Anda hendaknya mengetahui dulu makna sohabat agar tidak keliru. Kedua, sebaiknya anda mengkaji lebih dalam lagi tentang kaidah mutlaq dan relatif, kapan sesuatu yang mutlaq itu dibawa oleh yang relatif serta bagaimana penerapannya sehingga Anda tidak lancang dan gegabah menyatakan Muhajirin dan Anshor adalah munafiq, baik sebagiannya atau secara keseluruhan. Ketiga, tolong jika Anda baca ayat lihat tafsirnya dulu, jangan lansung main kesimpulan, ditujukan ke siapa 9:101 itu? Apa Anda tidak baca ayat sebelumnya 9:100, coba Anda lihat juga 9:117. Keempat, Anda katakan mereka atau di antara mereka ada yang munafiq, sementara Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda-tanda keimanan mencintai Anshor dan tanda-tanda kemunafikan membenci Anshor.” (HR Bukhori Muslim). Jadi kalau begitu siapa yang munafiq?!

Buletin Al-Wala’ wal Bara’ Edisi ke-47 Tahun ke-1 / 07 November 2003 M / 12 Ramadhan 1424 H

2 Tanggapan

  1. MasyaAllah, itulah Islam yang sebenarnya, tidak ada caci-mencaci, berlapang dada terhadap hal-hal yang sudah terjadi. Jelas benar beda islam dan bukan-islam, jika memang sahabat-sahabat semuanya durjana kecuali Ali bin Abithalib AS, dan tiga sahabat lainnya, seharusnya Kelompok tersebut membuang Quran yang ‘dibuat’ oleh orang-orang “durjana” (Innalillahiwainnailaihi raji’un, na’uzubillahi min dzalik)

  2. ya Allah masuk kan kami ke dalan keterangan dan kemenangan Mu amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: