Fadak, Kisah Yang Tak Kunjung Berakhir

Alhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala nabiyyina Muhammad

Wa ‘ala alihi wa man ittaba’a hudahu

Jika mendengar kata Fadak, yang terbetik pastilah sebuah kisah yang terjadi antara Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan sayyidah Fathimah. Kaum syi’ah yang demikian garangnya “membela” ahlul bait nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjadikan kisah ini sebagai bahan cemoohan atas khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena mereka menganggap beliau telah merampas hak kepemilikan tanah fadak dari sayyidah Fathimah dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Hal ini disebabkan, kisah-kisah yang mereka jadikan rujukan bersumber dari hadits-hadits yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya. Ini sudah menjadi kebiasaan mereka selalu berpegang dengan hadits-hadits yang lemah atau pendapat yang ganjil. Berbeda dengan Ahlussunnah, yang telah Allah anugerahkan kepada mereka bashirah, dan ilmu pengetahuan, dengan penuh ketelitian dan kesabaran mereka memisahkan antara hadits yang shahih dan dh’aif atau maudhu’.

Sayyidah Fathimah radhiallahu ‘anha

Namanya adalah Fathimah bintu Imamul muttaqin, rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim, Al Hasyimiyyah shalallahu ‘ala abiha wa alihi wasallam wa radhia ‘anha.

Sayyidah Fathimah adalah anak perempuan nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang paling muda dan paling dicintai.

Para pakar sejarah berbeda pendapat kapan sayyidah Fathimah dilahirkan, sebagian mereka menyebutkan bahwa ia dilahirkan ketika Ka’bah sedang dibangun dan usia nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ketika itu 35 tahun, pendapat inilah yang dipegang Ja’far Al Baqir, Al-‘Abbas dan Al Madaini. Sementara ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Sulaiman bin Ja’far Al Hasyimi menyebutkan bahwa sayyidah Fathimah dilahirkan ketika ayahnya shalallahu ‘alaihi wasallam berusia 41 tahun. Ia 5 tahun lebih tua dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhunna.

Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Fathimah hidup 6 bulan sepeninggal nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Berkata Al Waqidi: sayyidah Fathimah wafat pada malam selasa, 3 ramadhan tahun 11 Hijriyyah. (lihat Al Ishabah, karya Al hafizh Ibnu Hajar rahimahullah)

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah Rasulillah shalallahu ‘alaihi wasallam

Namanya adalah: Abdullah bin Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ai Al Qurasyi At Tamimi, Abu Bakar Ash Shiddiq bin Abi Quhafah, khalifah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah peristiwa Al Fiil, yakni 2 tahun lebih muda dari rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam.

Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal hari senin bulan Jumadil Ula tahun 13 hijriyyah, dalam usia 63 tahun.

Kisah tanah fadak

Kisah ini berawal ketika sayyidah Fathimah radhiallahu ‘anha dan Al ‘Abbas datang menemui khalifah Abu Bakar untuk meminta warisan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berupa tanah fadak dan keuntungan yang didapatkan dari hasil fadak. Maka khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq berkata: “Aku mendengar rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami tidak pernah meninggalkan warisan, (harta) yang kami tinggalkan adalah sebagai shadaqah.” Abu Bakar melanjutkan: “Demi Allah! Tidak ada satu perkara pun yang aku lihat rasulullah melakukannya kecuali akan aku lakukan, karena aku khawatir jika melanggar perintah beliau aku akan binasa.” Maka sayyidah Fathimah tidak pernah berbicara lagi dengan Abu Bakar sampai meninggal. (HR Al Bukhari dalam kitab shahihnya)

Dalam sebagian redaksi hadits, pernyataan khalifah Abu Bakar diatas adalah sebagai jawaban dari argumen yang disebutkan sayyidah Fathimah berupa beberapa ayat Al- Qur’an, diantara firman Allah:

“Allah mewasiatkan bagi anak-anak kalian, setiap laki-laki akan mendapatkan dua bagian wanita.”

Para pembaca rahimakumullah

Jika kita perhatikan kisah diatas, sebenarnya khilaf yang terjadi antara Sayyidah Fathimah dan khalifah Abu Bakar adalah khilaf yang ilmiyyah, masing-masing memiliki hujjah. Akan tetapi kedengkian sebagian pihak terhadap pribadi khalifah Abu Bakar menjadikannya memandang Abu Bakar hanya dengan kacamata hasad. Seandainya mereka mau menimbang ini semua dengan timbangan syari’at pastilah mereka akan berbicara dengan penuh penghormatan dan tidak perlu untuk menjatuhkan dan mencela salah satu dari kedua belah pihak. Karena keduanya memiliki hujjah yang menguatkan alasannya walaupun yang lebih benar hanya salah satu dari keduanya.

Tanah Fadak yang terjadi pembicaraan dari jaman ke jaman hanya memiliki dua kemungkinan:

  1. bisa jadi itu merupakan harta warisan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada sayyidah Fathimah
  2. atau rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam langsung menghadiahkannya kepada sayyidah Fathimah.

1. Fadak warisan nabi kepada sayyidah Fathimah

Kemungkinan pertama ini sangat mustahil, karena rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan tegas menyatakan sebagaimana yang disebutkan khalifah Abu Bakar diatas: “Kami (para nabi) tidak pernah meninggalkan warisan, semua harta yang kami tinggalkan adalah sebagai shadaqah” dalam riwayat Ahmad dengan lafazh: “Kami sekalian para nabi tidak pernah meninggalkan warisan.

Hadits Nabi Sebagai Penafsir Al Qur’an

Dari argumen yang disebutkan sayyidah Fathimah diatas sudah cukup menunjukkan betapa luas pemahamannya tentang hukum-hukum islam, demikian pula jawaban khalifah Abu Bakar dengan hadits nabi shalallahu ‘alaihi wasallam juga menunjukkan betapa luas pemahamannya tentang hukum-hukum islam.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa khalifah Abu Bakar menjawab ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadits nabi?

Para pembaca rahimakumullah, termasuk aqidah Ahlussunnah adalah bahwa hadits nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang shahih kedudukannya setara dengan ayat Al-Qur’an, kecuali dalam beberapa kondisi maka Al Qur’an memiliki keutamaan lebih dari hadits nabi, Allah berfirman:

“Tidaklah ia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya * tidaklah yang ia ucapkan melainkan wahyu yang diwahyukan” (QS. An-Najm 3-4) yakni Al Qur’an dan hadits nabi keduanya sama-sama wahyu dari Allah.

“dan (rasul tersebut) mengajarkan kepada kalian Al Kitab dan Al Hikmah” yang dimaksud Al Kitab adalah Al Qur’an, adapun Al Hikmah adalah Hadits nabi.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah, telah diturunkan kepadaku Al Kitab dan yang semisalnya (yakni hadits-haditsnya)” (HSR Abu Daud)

Lebih dari itu, hadits-hadits nabi merupakan menjabar Al Qur’an,

فالسنة تفسر القرآن

“Sunnah nabi adalah penafsir Al Qur’an”

Setiap ayat Al Qur’an yang masih bersifat umum pasti akan dijelaskan secara rinci oleh hadits nabi. Sebagai contoh adalah amalan shalat, Allah didalam Al Qur’an hanya menyebutkan shalat dalam bentuk perintah “Kerjakanlah shalat”, kemudian dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits nabi tentang tata cara pelaksanannya dan hukum-hukum yang terkait dengannya. Demikian pula dengan perkara-perkara lainnya.

Maka berawal dari sinilah khalifah Abu Bakar menjawab semua argumen yang disebutkan sayyidah Fathimah dengan hadits-hadits nabi yang tidak diragukan lagi keshahihannya.

Menurut khalifah Abu Bakar bahwa ayat-ayat yang disebutkan sayyidah Fathimah masih bersifat umum, maka masih harus di tafsirkan dengan hadits nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Allah berfirman:

“Allah mewasiatkan bagi anak-anak kalian, setiap laki-laki akan mendapatkan dua bagian wanita.”

Maka ayat ini dikhususkan dengan hadits nabi diatas “Kami sekalian para nabi tidak pernah meninggalkan warisan” seakan-akan maknanya adalah “Allah mewasiatkan bagi anak-anak kalian, setiap laki-laki akan mendapatkan dua bagian wanita kecuali keturunan nabi maka tidak ada warisan untuk mereka.”

Seperti itu pula dalam masalah makan harta shadaqah, hukum asalnya semua kaum muslimin boleh memakan harta shadaqah, akan tetapi karena ada hadits khusus dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi “Sesungguhnya keluarga Muhammad tidak boleh memakan harta shadaqah” maka seakan-akan maknanya adalah: “Diperbolehkan bagi seluruh kaum muslimin memakan harta shadaqah kecuali keluarga Muhammad (Ahlul baitnya) shalallahu ‘alaihi wasallam”.

Maka pengambilan alih Tanah Fadak oleh khalifah Abu Bakar untuk kemasalahatan kaum muslimin memiliki alasan yang sangat kuat, karena beliau berhukum dengan hukum rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “Apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah“, oleh karena itu setelah menjawab argumen sayyidah Fathimah, khalifah Abu Bakar melanjutkan dengan ucapan: “Demi Allah! Tidak ada satu perkara pun yang aku lihat rasulullah melakukannya kecuali akan aku lakukan, karena khawatir jika aku meninggalkan perkara yang telah rasulullah kerjakan aku akan binasa.”

Setelah diketahui bahwa khalifah Abu Bakar tidaklah berbuat kecuali mengikuti petunjuk nabi shalallahu ‘alaihi wasallam masih kah kita mengingkarinya, menghinanya, mencelanya atau bahkan menuduhnya dengan tuduhan yang bukan-bukan?!!! Subhanallah ‘amma taqulun

Sayyidah Fathimah memaafkan khalifah Abu Bakar

Sendainya kalian wahai kaum syi’ah mau bersikap inshaf, adil dan dewasa tentu kalian tidak akan terlalu membesar-besarkan masalah ini. Betapa tidak, telah disebutkan dalam referensi utama kalian bahwa Abu Bakar selaku khalifah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam setelah peristiwa tersebut mendatangi sayyidah Fathimah untuk meminta maaf, lantas beliaupun memaafkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Nahjul Balaghah jilid 1 hal 57: “Ketika sayyidah Fathimah marah, Abu Bakar pun mendatanginya kemudian meminta maaf untuk Umar, lalu sayyidah Fathimah memaafkannya.”

Lihatlah, khalifah Abu Bakar selaku orang besar ketika itu dengan rasa hormatnya yang tinggi terhadap keluarga nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sudi mendatangi sayyidah Fathimah untuk meminta maaf, maka sayyidah Fathimah yang tidak pernah tamak dengan harta benda dengan senang hati memaafkannya.

Akan tetapi yang sangat diherankan, mengapa kaum syi’ah tidak pernah menyebutkan sama sekali kisah ini?? Padahal terdapat dalam referensi utama mereka! Jadi, apa sebenarnya yang mereka inginkan dari kisah ini??

Wanita Syi’ah tidak mendapatkan warisan

Entah apa yang ada dipikiran orang-orang syi’ah, satu sisi mereka menyebutkan bahwa tanah Fadak adalah warisan rasulullah untuk sayyidah Fathimah disisi lain mereka menyebutkan bahwa wanita tidak boleh mendapatkan warisan. Lagi-lagi masalah ini terdapat dalam referensi utama mereka.

Al Kulaini pengarang kitab “Al kafi”, sebuah kitab yang sangat diagungkan kaum syi’ah, kedudukannya setara dengan shahih Al Bukhari dan Muslim bagi kaum muslimin, memuat satu bab khusus dengan judul

إنّ النساء لا يرثن من العقار شيئاً

“Sesungguhnya para wanita tidak mendapatkan warisan perabot rumah sedikitpun”

kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat dari imam-imam mereka, diantara adalah:

Ia meriwayatkan dari Abu Ja’far: “Para wanita tidak mendapatkan warisan tanah dan perabot rumah sedikitpun.”

Ath Thusi meriwayatkan dalam kitabnya “At Tahdzib” dan Al Majlisi dalam “Biharul Anwar” dari Muyassar: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah ‘alaihissalam tentang wanita, bagian warisan apa yang mereka dapatkan? Ia menjawab: “untuk mereka hanya senilai batu bata, bangunan, pasir, dan bambu. Adapun tanah dan perabot rumah maka mereka tidak mendapatkannya sedikitpun.

Dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far ‘alaihissalam: “Para wanita tidak mendapatkan warisan tanah dan perabot rumah sedikitpun.”

Dan dari Abdul Malik bin A’yun dari salah seorang dari keduanya ‘alaihimassalam: “Tidak ada bagi para wanita (bagian) dari rumah atau perabotnya sedikitpun.

Bagaimana tanggapan kalian wahai kaum syiah???? Bukankah menurut imam kalian wanita juga tidak mendapatkan harta warisan?? Lalu mengapa kalian hanya mencela Abu Bakar dan diam terhadap imam kalian?!!

2. Fadak adalah Hibah (pemberian) rasulullah untuk sayyidah Fathimah

Adapun kemungkinan kedua ini telah disebutkan oleh Al Kasysyani dalam kitab tafsirnya “Ash Shafi” 3/186, dan perlu diadakan penelitian ulang lagi tentang keabsahannya. Seaindainya kisah ini kita anggap shahih -walaupun menyelisihi riwayat-riwayat sunni maupun syi’ah yang shahih bahwa sayyidah Fathimah menuntut tanah Fadak adalah sebagai warisan bukan pemberian- ditinjau dari sisi keadilan terhadap anak sudah tidak pas, selain menyelisihi nash syar’i juga tidak mungkin rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang yang paling bertakwa kepada Allah melakukan hal semacam ini. Diriwayatkan dalam shahih Al Bukhari, Mulim, Nasa’i, Ahmad, dan yang lainnya dari An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma bahwa ia dan ayahnya pernah datang menemui rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau ketika itu masih kecil kemudian ayahnya berkata kepada rasulullah: “Wahai rasulullah, sesungguhnya aku telah memberikan kepada anakku ini (sebagian hartaku), sekiranya engkau mau menjadi saksi atas perkara ini.” Lantas rasulullah menanyainya: “Wahai Basyir, apakah kamu memiliki anak selainnya?” Basyir menjawab: “punya (wahai rasulullah)” “apakah kamu berikan kepada mereka semua sepertinya” Tanya rasulullah lagi, Basyir menjawab: “tidak (wahai rasulullah)” maka rasulullah bersabda: “Kalau begitu aku tidak akan menjadi saksi atas ketidak adilan.”

Perhatikanlah bimbingan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Basyir diatas untuk berlaku adil terhadap semua anaknya, beliau menyebut sikap memberi sebagian anak dan tidak memberikannya kepada yang lain sebagai tindakan ketidak adilan. Apakah mungkin rasulullah berlaku tidak adil?? Mungkinkah beliau selaku pengemban amanah Allah untuk berlaku tidak adil terhadap anak-anaknya hanya untuk perkara dunia seperti ini??? Na’udzu billahi min dzalik.

Semua kita tahu bahwa Khaibar ditaklukan pada tahun 7 hijriyyah sementara Zainab bintu rasulillah meninggal tahun 8 hijriyyah dan Ummu Kultsum meninggal tahun 9 hijriyyah, bagaimana mungkin rasulullah memberikan tanah Fadak kepada sayyidah Fathimah dan tidak kepada Zainab dan Ummu Kultsum?? Terlebih ketika riwayat-riwayat yang shahih menyebutkan bahwa tuntunan sayyidah Fathimah kepada khalifah Abu Bakar atas tanah Fadak adalah sebagai warisan bukan pemberian.

Kesimpulan

Kesimpulan dari permasalahan ini, sebagaimana yang telah kami uraikan diatas adalah bahwa tanah Fadak bukanlah sebagai warisan karena para nabi tidak pernah meninggalkan warisan, dan bukan pula pemberian, karena selain menyelisihi riwayat-riwayat yang shahih milik sunni dan syi’ah juga bertentangan dengan sikap adil.

Bahkan inilah pendapat Imam Ali sendiri, ketika diangkat menjadi khalifah beliau tidak pernah memberikan bagian Fadak kepada anak-anaknya setelah sayyidah Fathimah meninggal, untuknya seperempat dan sisanya dibagikan kepada Al Hasan, Husein, Zainab dan Ummu Kultsum “Untuk anak laki-laki mendapatkan dua bagian anak perempuan”. Perkara ini dengan jelas termaktub dalam kitab-kitab sejarah.

Bahkan, Sayyid Murtadho (imam Syi’ah) dalam kitabnya “Asy Syafi fil Imamah” meriwayatkan dari Imam Ali, “ketika kepemimpinan berada di tangan Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam beliau diingatkan untuk mengembalikan hak Fadak (kepada ahlul bait), (akan tetapi) beliau menjawab: Aku malu kepada Allah untuk mengembalikan sesuatu yang telah ditahan Abu Bakar dan dibiarkan Umar.”

Kesimpulan berikutnya adalah bahwa tujuan utama syi’ah yang terlalu membesar-besarkan kisah Fadak ini hanya untuk mencela, menghina, merendahkan, dan menuduh khalifah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, seorang yang telah digelari “Ash Shiddiq” langsung dari langit yang ketujuh. Na’udzu billahi min dzalik

Jika kecintaan mereka terhadap ahlul bait benar-benar tulus pasti mereka akan mengikuti langkah yang ditempuh sayyidah Fathimah yang telah memaafkan khalifah Abu Bakar dan langkah yang ditempuh imam Ali yang tidak pernah mengungkit-ukit permasalahan tersebut lagi sekalipun beliau telah menjadi khalifah.

“Seaindainya kecintaanmu tulus pasti kamu akan mengikutinya”

“Karena seorang akan selalu mengikuti siapa yang ia cintai”

Syubuhat dan Bantahannya

Syubuhat Pertama:

Sebagian pengikut syi’ah meragukan keshahihan hadis nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan khalifah Abu Bakar diatas: “Sesungguhnya kami sekalian para nabi tidak pernah meninggalkan warisan“.

Jawab:

hadits tersebut adalah shahih tanpa diragukan, baik bagi sunni maupun syiah. Keshahihannya bagi ahlussunnah tidak perlu penjelasan lagi, adapun bagi syi’ah adalah sebagai berikut:

Al Kulaini meriwayatkan dalam kitabnya “Al Kafi” dari Abu Abdillah ‘alaihissalam, rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “….. Sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak pernah mewariskan dinar ataupun dirham (harta) akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambilnya (warisan ilmu tersebut) berarti ia telah mendapatkan bagian yang amat besar.”. Al Majlisi mengomentari hadits ini dalam kitabnya Mir-atul ‘Uqul 1/111: “hadits pertama (hadits diatas) memiliki dua sanad, yang pertama majhul dan yang kedua hasan atau kuat yang tidak turun derajatnya dari shahih.” Berarti hadits bahwa para nabi tidak pernah mewariskan harta benda disepakati keshahihannya oleh sunni dan syi’ah.

Bahkan, Al Khumaini -la’natullah ‘alaihi- menshahihkan hadits ini dalam kitabnya “Al Hukumah Al Islamiyyah”:

“Telah meriwayatkan Ali bin Ibrahim dari ayahnya dari Hammad bin ‘Isa dari Al Qodah (Abdullah bin Maimun) dari Abu Abdillah ‘alaihissalam ia berkata, rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu , pasti Allah akan membukakan untuknya dengannya jalan menuju surga…. Sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak pernah mewariskan dinar atau dirham akan tetapi hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya (warisan ilmu tersebut) berarti ia telah mendapatkan bagian yang amat besar.”.” kemudian Al Khumaini menjelaskan keadaan perowinya:

رجال الحديث كلهم ثقات ، حتى أنّ والد علي بن إبراهيم (إبراهيم بن هاشم ) من كبار الثقات (المعتمدين في نقل الحديث ) فضلاً عن كونه ثقة )

“Para perowi hadits ini semuanya terpercaya, bahkan ayah Ali bin Ibrahim (Ibrahim bin Hasyim) dari pembesar tsiqot (yang dijadikan andalan dalam penukilan hadits) memiliki nilai lebih dari hanya sekedar terpercaya…”

Jika haditsnya shahih, untuk apa lagi kita menyusahkan diri mencari-cari alasan untuk mengingkarinya??

Sybuhat Kedua:

Alasan mereka yang meragukan keshahihan hadits diatas karena kata mereka bertentangan dengan beberapa ayat Al Qur’an yang menunjukkan bahwa para nabi juga saling mewarisi

Jawab: benar, beberapa ayat Al Qur’an menunjukkan bahwa para nabi juga saling mewarisi, diantaranya adalah:

Do’a nabi Zakariya: “(Ya Allah) Berilah aku dari sisi-Mu seorang anak * yang akan mewarisiku dan keluarga Ya’qub…” (QS. Maryam: 5-6)

Akan tetapi, yang dimaksud “mewarisi” dalam ayat diatas adalah mewarisi ilmu bukan harta benda, karena:

Pertama: Tidak pantas bagi seorang yang shalih untuk memohon kepada Allah agar diberi anak hanya untuk mewarisi harta benda, terlebih seorang nabi seperti Zakariya. beliau tidaklah meminta keturunan melainkan hanya untuk mewairisi ilmu dan kenabian, terbukti beliau diberi oleh Allah seorang anak yang bernama Yahya yang juga menjadi nabi.

Kedua: sangat masyhur dalam kitab-kitab sejarah bahwa nabi Zakariya adalah seorang yang fakir, disebutkan bahwa ia hanya seorang tukang kayu. Kira kira harta apa yang ia miliki sehingga minta keturunan kepada Allah subhanahu wata’ala untuk mewarisinya?

Ketiga: Sesungguhnya lafazh “Al Irts” pusaka, tidak hanya diperuntukan untuk mewarisi harta benda, akan tetapi juga digunakan untuk mewarisi ilmu, kenabian, kekuasaan dan selainnya sebagaimana firman Allah “Kemudian kami wariskan Al Kitab kepada orang orang yang telah kami pilih dari hamba Kami.” (QS Fathir: 32) “Mereka itulah para pewaris * yaitu yang mewarisi surga Firdaus, mereka kekal didalamnya.” (QS. Al Mu’minuun 10-11)

Maka jelas bahwa nabi Zakariya tidaklah memogon agar diberi anak kecuali hanya untuk mewarisi ilmu dan kenabiannya dan kenabian keluarga Ya’qub, ini sesuai dengan sabda rasululah shalallahu ‘alaihi wasallam diatas: “Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu”.

Demikian pula dengan ayat: “dan Sulaiman mewarisi Daud….” (QS. An Naml: 16), yakni mewarisi ilmu, kenabian, dan kekuasaan, bukan mewarisi harta, karena:

Pertama: nabi Daud sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab tarikh memiliki 100 istri, 300 budak wanita, dan 19 orang anak. Bagaimana mungkin nabi Daud hanya memberikan warisannya kepada nabi Sulaiman? maka pengkhususan Sulaiman disini sangat tidak pas dan bertentangan dengan sikap keadilan.

Kedua: nabi Daud memiliki 19 anak laki-laki, jika yang dimaksud adalah mewarisi harta mengapa hanya Sulaiman yang disebutkan dalam ayat ini? apa pula keistimewaan Sulaiman sehingga Allah abadikan dalam kitabNya Al Karim?, karena mereka semua tentu akan mendapatkan bagian yang sama.

Ketiga: dikuatkan dengan kelanjutan ayat diatas dan ayat sebelumnya yang masih dalam satu konteks pembicaraan, kelanjutan ayatnya adalah:

“Dan Sulaiman mewarisi Daud; ia (Sulaiman) berkata: “Wahai sekalian manusia, kami telah diberi ilmu….”

Adapun ayat sebelumnya,

“Dan sungguh kami telah memberi Daud dan Sulaiman ilmu, keduanya berkata: “Segala puji hanya milik Allah yang telah melebihkan kami atas sekalian hamba-Nya.” (Qs. An-Naml:16)

Komentar para pakar tafsir:

Ibnu Jarir Ath-Thabari: “yakni mewarisi ilmu yang telah Allah berikan semasa hidupnya.”

Ibnu Katsir: “dan Sulaiman mewarisi Daud yakni kekuasaan dan kenabian bukan mewarisi harta…”

Al Baghawi: “yakni kenabian, ilmu, dan kekuasaannya….”

Asy Syaukani: “yakni mewarisi Ilmu dan kenabian”

Ibnul Jauzi: “yakni mewarisi kenabian, ilmu, dan kekuasaannya.”

As-Sa’di: “mewarisi keilmuwan, dan kenabiannya….”

Asy-Syinqithi: “Telah lalu penjelasannya bahwa yang dimaksud adalah mewarisi ilmu dan dien bukan mewarisi harta…”

As Suyuthi: “mewarisi kenabian, kekuasaan, dan ilmunya.”

‘Izzuddin Abdussalam: “Sulaiman mewarisi kenabian Daud dan kekuasaannya….”

Al Alusi: “yakni (Sulaiman) menempati kedudukannya (Daud) dalam hal kenabian dan kekuasaan maka jadilah ia seorang nabi yang memiliki kekuasaan sepeninggal bapaknya (Daud)….”

Jelaslah bahwa para nabi tidak pernah mewariskan harta benda, tidak lain yang mereka wariskan adalah ilmu, kenabian, dan kekuasaan. Sungguh benar rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak pernah mewariskan dinar atau dirham akan tetapi hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya (warisan ilmu tersebut) berarti ia telah mendapatkan bagian yang amat besar.”

“Apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah”

Wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

16 Tanggapan

  1. Assalamuaikum…
    terima Kasih atas segala pencerahan…
    untuk selanjutnya mohon agar dibahs mengenai Abu Hurairah yang di Hujat Oleh Syiah…Dimana sudah terbit buku tentang penghujatan tgd Abu haurairah oleh Syiah versi bhs Indonesia maupun Melayu.

    Saya pernah dapat download sanggahannya dalam bhs Arab. Terus terang saya berharap segera di translite ke dlm bhs Indonesia. Sehingga Umat Islam Indonesia mendapat mamfaatnya.

    Terima kasih

  2. Soal tanah fadak,

    Pertama, Fatimah adalah manusia biasa yang bisa salah bisa benar, lalu beliau pun memaafkan Abu Bakar, karena memang Abu Bakar dalam posisi benar.

    Kedua, dalam kitab Syiah pun ada penjelasan bahwa Imam Ali pun menyetujui pendapat Abu Bakar.

    ———————————————————-

    Saya punya dokumen pdf penjelasan tentang buku “berbahaya” Saqifah Awal Perselisihan Umat milik Syiah yang salah satunya berusaha menjelekkan Abu Hurairah sebagai periwayat hadist paling banyak, tapi isnya dalam bentuk printscreen. Inginnya saya tulis ulang tapi belum sempat. Kalau mau, kirim email saja ke abdillah81@yahoo.com, dengan judul, “Membela Abu Hurairah”, nanti saya kirim Insya Allah.

  3. nabi daud mewariskan ke nabi sulaiman, jadi hadist yang disampaikan abu bakar jelas perlu di pertanyakan. apa bener riwayatnya?

    —haulasyiah—
    monggo mas, kalau baca yang lengkap dan teliti….

  4. Mungkin buat mas yang bernick abdullah, harus di copy ulang disini jawaban dari pertanyaanya.

    ———————————-

    Demikian pula dengan ayat: “dan Sulaiman mewarisi Daud….” (QS. An Naml: 16), yakni mewarisi ilmu, kenabian, dan kekuasaan, bukan mewarisi harta, karena:

    Pertama: nabi Daud sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab tarikh memiliki 100 istri, 300 budak wanita, dan 19 orang anak. Bagaimana mungkin nabi Daud hanya memberikan warisannya kepada nabi Sulaiman? maka pengkhususan Sulaiman disini sangat tidak pas dan bertentangan dengan sikap keadilan.

    Kedua: nabi Daud memiliki 19 anak laki-laki, jika yang dimaksud adalah mewarisi harta mengapa hanya Sulaiman yang disebutkan dalam ayat ini? apa pula keistimewaan Sulaiman sehingga Allah abadikan dalam kitabNya Al Karim?, karena mereka semua tentu akan mendapatkan bagian yang sama.

    Ketiga: dikuatkan dengan kelanjutan ayat diatas dan ayat sebelumnya yang masih dalam satu konteks pembicaraan, kelanjutan ayatnya adalah:

    “Dan Sulaiman mewarisi Daud; ia (Sulaiman) berkata: “Wahai sekalian manusia, kami telah diberi ilmu….”

    Adapun ayat sebelumnya,

    “Dan sungguh kami telah memberi Daud dan Sulaiman ilmu, keduanya berkata: “Segala puji hanya milik Allah yang telah melebihkan kami atas sekalian hamba-Nya.” (Qs. An-Naml:16)

    Dst….

    Silahkan baca… betul begitu akhi pemilik blog

    —haulasyiah—
    waduh… para pembaca ni ternyata kurang sabar, ya mbok dibaca dulu yang lengkap baru koment.
    untuk mas penulis bebas jazakallahu khairan atas partisipasinya…
    nulis bebas gk papalah yang penting sesuai syari’at.

  5. jika demikian mengapa fatimah dikuburkan pada malam hari serta melarang sahabat lain melawatnya, trutama abu bakar dan umar. liat juga proses pemakaman Nabi saw yang hanya dihadiri keluarganya serta sebagian kecil sahabat yang kebetulan ada di sana, sedang para sahabat besar lainnya “sibuk” mengurus kepemimpinan.

    —haulasyiah—
    Mbak Zulfi, buktinya mana?

  6. assalamualaikum…….

    mampir sambil baca2.

    artikel postingan anda bagus, anda menjelaskan dengan detail soal tanah fadak. ini bisa saya jadikan salah satu refensi mengenai masalah sunni – syiah.

    namun ada yang membingungkan saya bagi saya, yaitu mengenai sayyidah Fatimah memaafkan Abu bakar.

    pertama anda menuliskan bahwa dalam HR. Bukhari sayyidah Fatimah tidak pernah berbicara lagi dengan Abu bakar sampai beliau meninggal, itu bisa diartikan bahwa tidak terucap kata memaafkan dari sayyidah Fatimah kepada Abu bakar.

    lalu anda menuliskan bahwa didalam Nahjul Balaghah jilid 1 hal 57 bahwa sayyidah Fatimah memaafkan Abu bakar.

    lalu yang benar yang mana? saya mohon kejelasannya.
    ( malu bertanya sesat dijalan kan mas )

    sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih.

    assalamualaikum…….

    —haulasyiah—
    Mbak Dian, riwayat yang benar adalah yang ada di Al Bukhari dan Muslim. Adapun yang kami nukilkan dari Nahjul Balaghah hanya sebatas ingin mengingatkan syi’ah, ternyata ada dalam kitab mereka kisah Fathimah yang memaafkan Abu Bakar. Akan tetapi sangat disayangkan mereka sama sekali tidak pernah menukilkan kisah ini.

  7. Taqlid buta menutup mata dan menutup telinga…
    Sejarah yang akan meng-ungkap..

    Syiah – Sunni sama saja..
    Yang tampak dimata Allah hanya taqwa semata..

    Antum mau syiah…?? atau sunni…?? orang tak kan peduli
    Orang terbaik adalah orang yang berguna bagi sesama..
    Tanpa caci, tanpa iri dan tanpa dengki…

    Islam besar oleh kita…
    Islam hancur pun oleh kita…

    Haruskah kita selalu mempertentangkan apa yang telah menjadi sejarah…, kita tak hidup di jaman Rasulullah, kita pun jauh dari Jaman para sahabat…

    Sekarang antumberdebat siapa yang benar, Syiah atau Sunni….tapi sementara itu pejuang Palestina bersimbah darah dan meregang nyawa.

    Sementara itu pula kehormatan Al-Aqsa diinjak-injak zionis Israel..

    MUSUH ANTUM-ANTI BUKAN SYIAH, BUKAN PULA SUNNI…

    Haruskah sekarang kita berdebat siapa Syiah dan Siapa Sunni…

    —haulasyiah—
    wah, sepertinya mas jangkrik tidak paham masalah.

  8. berarti yang benar yang ada di hadits bukhari dan muslim ya mas.
    dan yang ada di Nahjul Balaghah jilid 1 hal 57 itu tidak benar ya.

    so…..

    —haulasyiah—
    Menurut syi’ah seharusnya bener, tapi gk tahu ya kok gk pernah mereka nukilin

  9. mas Haulasyiah,
    Tidak pernah dinukilin karena mereka takut ketahuan kebodohan nya.

    Selamta berjuang

  10. Assalamu’alaikum.
    Barokallohu fikum. Penjelasan yang sangat berguna bagi Ana yang sedang ada di Kuwait nih. Di sini banyak juga Syi’ah nya, tapi hampir semua warga Kuwait yang Syi’ah adalah berasal dari IRAN. Bukan Kuwait asli, tapi mereka adalah perantau yang karena saking lamanya dan beranak pinak serta di sini dan dulu ada kesempatan untuk menjadi warga negara Kuwait maka meraka memanfaatkan kesempatan itu. Mereka memang sangat kurang ajar terhadap para shahabat Nabi shalallohu ‘alaihi wasallam. Tahu kenapa mereka begitu? Tidak lain, karena para shahabatlah yang menyebarkan Islam dan mereka tidak suka karena Islam yang dibawa para shahabat tidak sesuai dengan selera hawa nafsu mereka. Mereka dengki, hasad dan iri sebagaimana sifat asli Abdullah bin Saba yang seorang Yahudi ‘masuk’ Islam dan menyebarkan faham Syi’ah ini. Orang Syi’ah adalah orang-orang munafik. Mereka menampakkan keislaman pada lahirnya tapi pada hakekatnya mereka menyembunyikan kekafiran bahkan banyak ucapan terekam dan tulisan di buku atau media mereka yang dengan jelas menunjukkan kekafirannya. (sebagaimana perkataan Syeikh Falah Ismail hafidzahulloh). Naudzubillah min dzalik. Maka, jagalah hati dan lisan kita terhadap para shahabat yang mulia.

  11. Renungkanlah wahai orang Syi’ah:
    Jika kalian mencela Abu Bakar, Umar, Usman dan para shahabat yang lainnya -radhiyallohu ‘anhum ajma’in- apakah berarti kalian merasa lebih baik daripada mereka??? Jawablah dengan hati nurani kalian!!!
    Jika jawaban kalian: TIDAK. Maka apa alasan kalian melakukan itu semua?

  12. “Kedua: nabi Daud memiliki 19 anak laki-laki, jika yang dimaksud adalah mewarisi harta mengapa hanya Sulaiman yang disebutkan dalam ayat ini? APA PULA KESITIMEWAAN SULAIMAN…”

    mas sampeyan niki ngomong koq asal bunyi …membabi buta membela sahabat Abu Bakar dan Umar tapi nabi Sulaiman sampeyan pertanyakan keistimewaannya.
    Weleh…weleh mas jangan lupa lho tangan mas yang ngetik tulisan iki bakal dimintake pertanggung jawaban.

    —haulasyiah—
    weleh, mas musafir! coba dipahami lagi tulisan kami dan maaf, motongnya jangan semborno bisa merubah mana.
    “jika yang dimaksud adalah mewarisi harta mengapa hanya Sulaiman yang disebutkan dalam ayat ini? apa pula keistimewaan Sulaiman sehingga Allah abadikan dalam kitabNya Al Karim?, karena mereka semua tentu akan mendapatkan bagian yang sama.”
    kan sangat jelas, maksudnya adalah kalau seandainya yang dimaksud dalam ayat diatas adalah Sulaiman mewarisi harta, kira-kira apa keistimewaannya sehingga Allah abadikan dalam kitab-Nya yang mulia.
    sekali lagi bukan maksudnya Nabi Sulaiman tidak memiliki keutamaan.

  13. he…he…he, mas bukannya mau motong sembarangan kalau motong sembarangan diakhir kutipan tak kasih tanda titik satu yang artinya berhenti.

    Trus terang masih gak ngerti sama jawabane mas haulasyiah diatas, agak susah utk bisa masuk ke nalar sampeyan. Maksud sampeyan niki warisan nabi Daud, duite dan kerajaanya, musti dibagi ke semua anaknya yang 19 itu tho maksudnya. Bukan harus jatuh ke tangan nabi Sulaiman semuannya. Soalnya sampeyan bilang APA KEISTIMEWAAN nabi Sulaiman dibandingkan saudara lainnya yang 19 itu. Gitu tho maksudte mas?

  14. Bismillah…

    gini loh mazt Musafir..

    di Al Qur’an kan sudah disebutin”… dan Sulaiman mewarisi Daud….” (QS. An Naml: 16),

    Di kitab-kitab tarikh disebutin kalo anaknya Nabi Daud a.s. tu buanyakk….tp koq knapa hanya Nabi Sulaiman aja yang diabadikan di dalam Al Qur’an…apakah yang diwarisken itu harta ??! cz Syiah berpendapat pake ayat itu kalo para Nabi juga saling mewarisi….

    Trus apa donk yang diwarisken ke Nabi Sulaiman a.s….hartakah ?! No Wayy….anak Nabi Daud a.s Banyakk…kalo cuma harta mah gak ada yang istimewa…
    kalo yang diwarisken cuma harta harusnya bukan cuma Nabi Sulaiman aja donk yang diabadikan dalam Al Qur’an oleh Allah Ta’ala, tapiii smua anaknya yang 19 itu….

    So…Kenapa Allah Ta’ala hanya mengabadikan satu aja anak Nabi Daud a.s di Al Qur’an yaitu Nabi Sulaiman a.s…? gak lain karena Allah memilih Nabi Sulaiman a.s untuk mewarisi ilmu dari Ayahnya (NAai Daud a.s.)…..bukan harta…..cz kalo harta harusnya semua anak dapeet!…tapi kalo ilmu cm manusia pilihan Allah saja (Nabi) yang dapet..

    Dengan kata lain kalo yang diwariske Nabi Daud cm Harta trus apa kelebihan Nabi Sulaiman dibanding sodaranya yg laen..? cz kalo harta semua sodaranya harusnya dapet donk…..

    Makanya yg diwarisken bukan harta mazt…tapi Ilmu…jadi gak sembarang orang dapet…cuma orang pilihan Allah aja yang dapet…makanya yg diabadiken di AL Qur’an cuma Nabi Sulaiman a.s.

    gtu mazt….mudeng ya…kalo gak mudeng nanya lagi boleh kok..

    Wallaahu Ta’ala A’lam

  15. ada yg curiga, iran (negara syiah), adalah kaki tangan yahudi, krn kalo diliat2 emang mrk koq ga pernah nyerang israel ya…trus ingat ga ada skandal jual beli senjata dari AS ke iran?

    —haulasyiah—
    Tapi dari sejarahnya memang orang syi’ah itu sangat dekat dengan Yahudi, Barakallahu fiikum

  16. mas bagus sekali log nya, copy ya buat bahan presentasi di kampus.Jazakallah Khairon Katsiran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: