Mengoreksi Keabsahan Keyakinan Ibnu Taimiyyah: “Istiwa’ Allah Sama Seperti Istiwa’ Makhluk-Nya.”

Disebutkan bahwa Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa duduknya Allah diatas arsy seperti duduknya dia (Ibnu Taimiyyah). Hal itu, kata mereka, dikatakan sendiri oleh Ibnu Taimiyyah berulang kali ketika ia berada diatas mimbar masjid Bani Umayyah di Damaskus dan Mesir.

—————————


Kami katakan: ini adalah kedustaan jelas atas diri Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Syaikhul Islam dalam permasalahan ini menetapkan apa yang telah Allah tetapkan sendiri untuk diri-Nya, yaitu bahwa Dia (Allah) ber-istiwa’ diatas arsy dengan bentuk istiwa’ yang sesuai dengan kemuliaan-Nya Subhanahu. Tanpa takyif (menanyakan bagaimana istiwa’ Allah?), tanpa tamtsil (menirukan istiwa’ Allah dengan bentuk perbuatan), dan tanpa tasybih (menyamakan istiwa’ Allah dengan istiwa’ makhluk-Nya), hal ini seperti ucapan Imam Malik dan selainnya, “Istiwa’ adalah sesuatu yang sudah diketahui (maknanya, pent), dan al-kaif (tatacaranya) majhul (tidak ada yang tahu), beriman dengannya adalah wajib, dan menanyakan tentangnya adalah bid’ah.”

Berikut ini kami sertakan ucapan Ibnu Taimiyyah yang telah diabadaikan dalam karya tulisnya sebagai penjelas bahwa beliau tidak pernah menyamakan duduknya Allah dengan duduknya para makhluk:

Lihat Majmu’ Fatawa 5/199 Cet. Dar ‘Alamil Kutub Riyadh:

ولله تعالى استواء على عرشه حقيقة وللعبد استواء على الفلك حقيقة وليس استواء الخالق كاستواء المخلوقين فان الله لا يفتقر الى شىء ولا يحتاج الى شىء بل هو الغنى عن كل شىء

“Dan Allah memiliki sifat istiwa’ diatas arsy-Nya secara hakikat. Dan hamba juga memiliki sifat istiwa’ diatas bahtera secara hakikat. Tetapi istiwa’ Al-Kholiq (Allah) tidak seperti istiwa’ para makhluk. Karena Allah tidak butuh kepada sesuatu apapun, dan tidak membutuhkan sesuatu apapun. Bahkan Dia adalah Dzat yang Maha kaya (tidak butuh) dari segala sesuatu.”

Disini beliau rahimahullah menggunakan lafazh istiwa’ (beristiwa’) dan tidak menggunakan lafazh julus (duduk). Maka berbedalah sifat istiwa’ Allah dengan sifat istiwa’ makhluk-Nya.[1]

Karena seperti yang kita tahu bahwa sifat mengikuti sesuatu yang dia sifati. Semakin tinggi kemuliaan seseorang maka akan semakin tinggi pula sifat yang disandangkan kepadanya. Sebagai contoh –hanya sekedar memahamkan-, kera memiliki sifat duduk dan manusia juga memiliki sifat duduk, disini kita tanyakan: apakah sama sifat duduk kera dengan sifat duduk manusia? Tentu tidak sama. Sifat duduk manusia lebih mulia, karena yang disifati (yaitu manusia) lebih mulia dari kera. Maka seperti itulah, semakin mulia sesuatu maka akan semakin mulia pula sifat yang disandangnya.


[1] [ Diterjemahkan dari Kitab Min A’lamil Mujaddidin, karya Syaikh Sholih Al-Fauzan ]

8 Tanggapan

  1. Pembohong yang matinya dipenggal………………

    —haulasyiah—
    Maksudnya siapa?

  2. assalamualaikum warohmatullah wabarokatu

    semoga allah swt selalu memberikan kesehatan dan kesabaran dalam perjuangan dakwah yg antum lakukan,
    dakwah yg rosulallah saw sampai kan juga banyak mendapat halangan dan cobaan,,namun insya allah apa apa yg antum lakukan dalam membela agama allah swt dapat bernilai pahala dan menjadi saksi kebaikan di yaumil hisab kelak.

    amiin ya robbal alamin

    sukron jaza kumllah khoir,,,,

    wassalamualaikum warohmatullah wabarokatu

  3. Apakah Antum sudah baca sendiri di kitap Ibnu Taimiyyah, tentang beristiwa’ Allah diatas arsy, Sungguh saya takut ini Finah oleh orang orang yang memusuhi beliau, Sepanjang penjelasan yang sampai kepada saya intinya Ibnu Taimiyyah berkata, Allah Ber istiwa di atas arsy, Istiwa (Bersemayam) Tetapi bagai mana Istiwanya Allah itu tidak boleh dipertanyakan, karena tidak ada Khabar, baik itu penjelasan Rasulullah Maupun dalam Al-Qur’an

    —admin—
    maksudnya gmn akhi? artikel di atas sebagai bantahan thd org-org yg menuduh Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa istiwa’ Allah seperti istiwa’ makhluq…

  4. bismillaah. ‘afwan ana mau bertax. sifat istiwa’ it trmsuk sifat dzatiyah atau fi’liyah? mhon pnjelasanx. jazaakumullohu khoiron wa baarokallohu fiikum

    —haulasyiah—
    Istiwa’ sifat fi’liyyah.. wafiiki barokarrohman

  5. Selama ini Ibnu Thaimiyah menjadi bulan-bulanan kaum kufur syi’ah

  6. Tugas kita Dan antum memberikan berita yg benar . Mereka jg saudara kita .

  7. haula syiah,sekitar syiah,lucu nama situsnya

  8. haula syiah = seputar syi’ah,, jgn terlalu kaku mas nerjemahinnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: